Di Antara Tiga Undakan Curug, Alam Berbisik Lembut.

Curug Ciastana di Desa Bojongkasih, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menampilkan aliran air bertingkat tiga yang menjadi daya tarik alami kawasan tersebut.

Oleh Fadilah Munajat

Perjalanan menuju Curug Ciastana di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bukan sekadar soal jarak, tetapi tentang kesabaran dan rasa ingin sampai. Dari pusat Kecamatan Kadupandak, jalan perlahan menyempit, berkelok mengikuti kontur perbukitan. Aspal yang tak sepenuhnya mulus, sesekali berganti tanah dan bebatuan, menjadi bagian dari cerita sebelum tiba di tujuan.

Kendaraan hanya bisa mengantar hingga titik tertentu. Selebihnya, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalur setapak yang membelah kebun dan pepohonan harus dilalui dengan hati-hati, tanahnya lembap, licin, dan menurun. Namun justru di situlah, setiap langkah terasa lebih bermakna.

Suara gemuruh air mulai terdengar sebelum wujudnya terlihat. Seolah memanggil, Curug Ciastana menyambut siapa pun yang datang dengan cara yang sederhana, tanpa gemerlap, tanpa fasilitas mewah.

Air terjun itu akhirnya tampak. Jatuh dari ketinggian, airnya menghantam batuan di bawahnya, memercikkan embun halus ke udara. Curug Ciastana memiliki tiga undakan alami, di mana air mengalir bertingkat dari bagian atas hingga ke kolam di bawah, menciptakan lanskap yang berlapis dan memanjakan mata. Dikelilingi pepohonan hijau dan udara yang dingin, suasana di sana terasa begitu hidup, sekaligus menenangkan.

Bagi warga Desa Bojongkasih, curug ini bukan hanya tempat singgah. Ia adalah bagian dari kehidupan yang tumbuh bersama.

Kepala Desa Bojongkasih, Dodi Anwar Musadad, menyadari betul bahwa keindahan Curug Ciastana tak bisa dilepaskan dari akses yang masih terbatas. Namun baginya, perjalanan yang tidak mudah justru menjadi bagian dari nilai yang dimiliki tempat ini.

“Memang aksesnya belum maksimal, tapi itu juga yang membuat alamnya masih terjaga,” ujarnya.

Dodi tidak menampik, kondisi jalan menuju lokasi masih menjadi tantangan utama. Infrastruktur yang terbatas membuat pengunjung harus berjuang lebih untuk sampai. Namun di balik itu, ada harapan yang terus tumbuh.

“Ke depan tentu kita ingin ada perbaikan akses. Supaya wisatawan lebih mudah datang, tapi tanpa merusak alam yang ada,” katanya.

Di sepanjang jalur menuju curug, terlihat jejak kepedulian warga. Beberapa titik telah diperbaiki secara swadaya. Batu-batu disusun agar pijakan lebih aman, ranting dibersihkan agar jalur tidak tertutup.

Tak ada proyek besar, tak ada alat berat, hanya gotong royong yang berjalan perlahan.

Bagi Dodi, pengembangan wisata bukan semata menghadirkan kemudahan, tetapi juga menjaga keseimbangan. Ia ingin Curug Ciastana, berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

“Kalau semuanya dibeton, mungkin jadi mudah. Tapi apakah masih terasa alami? Itu yang harus kita pikirkan,” tuturnya.

Harapan itu sederhana, akses yang lebih baik, fasilitas yang cukup, namun tetap menjaga keaslian alam. Agar warga bisa merasakan manfaat ekonomi, tanpa harus mengorbankan lingkungan yang telah lama mereka jaga.

Di bawah rindangnya pepohonan, beberapa warga tampak menyapa pengunjung yang datang. Ada yang menawarkan minuman hangat, ada pula yang sekadar berbagi cerita tentang jalur yang harus dilewati.

Di sanalah, perjalanan yang tadinya terasa melelahkan, berubah menjadi pengalaman yang hangat.

Curug Ciastana terus mengalir, tak terganggu oleh hiruk pikuk dunia luar. Dan di balik jalur yang berliku, di balik langkah kaki yang harus berhati-hati, Bojongkasih, sedang menapaki jalannya sendiri, pelan, namun penuh harapan. (**)

Comment