Dinding Bilik Lapuk, Atap Bocor, Hamdan Berjuang Lindungi Istri dan Dua Balitanya

Kondisi rumah Hamdan (34) di Kampung Ciselang, Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Cianjur, memprihatinkan. Dinding bilik tampak rusak, bagian atap tidak utuh, dan bangunan membutuhkan perbaikan agar layak huni. Hamdan bersama istri dan dua anaknya yang masih balita berharap mendapat bantuan dari pemerintah maupun para dermawan.

Oleh Fadilah Munajat/ Wartacianjurnews.com

Hujan deras mungkin menjadi hal biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi Hamdan (34), warga Kampung Ciselang, RT 004/RW 007, Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, hujan justru membawa kekhawatiran.

Di rumah sederhana yang ditempatinya bersama sang istri, Santi Sumiati (29), dan kedua anak mereka yang masih balita, ada kecemasan yang sulit dihindari. Kondisi bangunan yang memprihatinkan membuat keluarga ini khawatir rumah yang mereka tempati sewaktu-waktu roboh.

Dari luar, kondisi rumah tersebut memperlihatkan keterbatasan yang dihadapi keluarga kecil ini. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang tampak usang dan rusak di sejumlah bagian. Sementara itu, kondisi atap yang tidak utuh membuat rumah tersebut bocor ketika hujan deras.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi keluarga justru menyisakan rasa waswas.

Bayangkan menjadi seorang ayah yang setiap hari berusaha mencari nafkah, tetapi belum mampu memperbaiki rumah yang menjadi tempat berlindung istri dan kedua buah hatinya.

Di tengah kondisi itu, Hamdan tetap berusaha menjalani kehidupan. Ia bekerja serabutan sebagai buruh harian lepas, dengan penghasilan yang tidak menentu.

“Sebagai seorang ayah, tentu saya ingin keluarga tinggal di rumah yang aman. Apalagi anak-anak masih kecil. Kalau hujan deras, kami khawatir karena kondisi rumah sudah seperti ini. Saya ingin rumah ini bisa diperbaiki, tetapi kemampuan saya sangat terbatas,” demikian draf kutipan yang perlu dikonfirmasi kepada Hamdan.

Kondisi rumah Hamdan bukan hanya memprihatinkan dari sisi bangunan. Fasilitas dasar untuk menunjang kehidupan sehari-hari pun belum memadai.

Keluarga ini tidak memiliki kamar tidur yang layak. Setiap malam, Hamdan, Santi, dan kedua anak mereka tidur bersama di ruang tengah. Fasilitas kamar mandi yang layak juga belum tersedia.

Di ruang yang terbatas itu, mereka menjalani hari-hari dengan segala keterbatasan.

Kedua anak Hamdan masih berada pada usia yang membutuhkan perhatian dan perlindungan. Sebagai orang tua, Hamdan dan Santi tentu ingin memberikan tempat tinggal yang nyaman bagi buah hati mereka.

Namun, keinginan sederhana itu belum mudah diwujudkan.

Atap yang bocor, dinding bilik yang sudah usang, serta kondisi bangunan yang memprihatinkan menjadi gambaran keseharian keluarga ini.

“Kalau melihat anak-anak, sebagai orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik. Saya ingin mereka punya tempat tidur yang nyaman dan rumah yang aman. Saya hanya berharap suatu hari nanti rumah ini bisa diperbaiki,” demikian draf kutipan Hamdan yang perlu dikonfirmasi sebelum diterbitkan.

Hamdan bekerja sebagai buruh harian lepas dengan pekerjaan serabutan. Penghasilannya bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan yang bisa dilakukan.

Sementara itu, kebutuhan rumah tangga harus terus dipenuhi. Mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga keperluan kedua anaknya yang masih balita.

Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, memperbaiki rumah membutuhkan biaya yang sulit dijangkau.

Keluarga Hamdan diketahui masuk dalam kelompok desil 1, yakni kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah dalam pengelompokan kesejahteraan masyarakat.

Di balik kategori tersebut, ada kehidupan nyata yang sedang diperjuangkan. Seorang ayah yang berusaha mencari nafkah, seorang ibu yang merawat anak-anaknya, serta dua balita yang membutuhkan tempat tinggal yang layak.

Bagi Hamdan, memperbaiki rumah secara mandiri masih menjadi pekerjaan berat. Penghasilan yang diperolehnya harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara kondisi rumah membutuhkan perhatian.

“Saya bekerja serabutan. Penghasilan juga tidak menentu, sedangkan kebutuhan anak-anak harus tetap dipenuhi. Untuk memperbaiki rumah, saya belum sanggup sendiri. Saya berharap ada bantuan dari pemerintah atau orang-orang yang peduli kepada keluarga kami,” demikian draf kutipan yang perlu dikonfirmasi kepada Hamdan.

Di tengah keterbatasan yang dihadapi, Hamdan dan Santi masih menyimpan harapan. Mereka berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi rumahnya, sekaligus berharap ada uluran tangan dari masyarakat dan para dermawan.

Bantuan perbaikan rumah akan sangat berarti bagi keluarga tersebut. Bukan hanya untuk memperbaiki bangunan, melainkan juga menghadirkan rasa aman bagi seluruh anggota keluarga.

Bayangkan suatu malam nanti, ketika hujan turun deras, Hamdan tidak lagi dihantui kekhawatiran terhadap kondisi rumahnya. Kedua anaknya bisa tidur dengan tenang, sementara ia dan istrinya dapat beristirahat tanpa terus memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Bagi sebagian orang, rumah yang kokoh dan kamar tidur yang layak mungkin merupakan hal biasa. Namun, bagi keluarga Hamdan, hal itu masih menjadi harapan yang ingin diwujudkan.

Kisah Hamdan menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan masyarakat, masih ada keluarga yang membutuhkan perhatian agar dapat tinggal di rumah yang aman dan layak.

Kini, harapan itu tertuju kepada pemerintah dan masyarakat yang memiliki kepedulian sosial. Semoga kondisi rumah Hamdan mendapat perhatian dan dapat ditindaklanjuti melalui bantuan yang sesuai dengan ketentuan.

Sebab, rumah bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Rumah adalah tempat seorang ayah melindungi keluarganya, tempat seorang ibu membesarkan anak-anaknya, dan tempat anak-anak seharusnya bisa tidur dengan aman.

Bagi Hamdan, kebahagiaan mungkin sesederhana melihat kedua buah hatinya tidur dengan tenang, tanpa lagi dibayangi kekhawatiran ketika hujan turun. (**).

Comment