Wartacianjurnews.com – Perguruan Islam Al-I’anah Cianjur memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam di Kabupaten Cianjur. Lembaga yang kini dikenal sebagai Yayasan Perguruan Islam Al-I’anah itu berdiri pada 17 September 1912 atau 6 Syawal 1330 Hijriah.
Pendirian Al-I’anah berlangsung di kediaman Rd. H. Tolhah Al-Kholidy dan dihadiri para kiai, ulama, dermawan serta tokoh masyarakat. KH. R. Muhammad Nuh bin Idris menjadi salah satu tokoh yang mempelopori pendirian lembaga pendidikan tersebut dengan cita-cita mengembangkan pendidikan Islam melalui sistem sekolah.
Pada awal berdirinya, lembaga ini menggunakan nama I’anatuththolibin wal Miskin, yang bermakna pertolongan bagi pelajar dan masyarakat tidak mampu. Madrasah Al-I’anah kemudian mulai membuka pendaftaran murid pada September 1912, dengan salah satu murid generasi pertama tercatat R.H.M. Soleh Madani.

Perjalanan Al-I’anah turut melahirkan sejumlah tokoh yang kemudian melanjutkan pendidikan dan berkiprah di bidang keagamaan, pendidikan serta kemasyarakatan. Pada 1918, enam murid pilihan Al-I’anah diberangkatkan ke Pondok Pesantren Syamailul Huda di Pekalongan untuk melanjutkan pendidikan.
Memasuki masa kemerdekaan, kegiatan Perguruan Al-I’anah sempat terhenti pada Juni 1946 akibat situasi keamanan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Madrasah kemudian dibuka kembali pada 6 September 1947 setelah adanya kesepakatan sejumlah tokoh, termasuk R.H. Kosim Iman, R.H. Kosim bin Nuh, S. Ali Marta, R.N. Abubakar dan R. Hasan Sumintapura sebagai pelindung.
Pengembangan pendidikan formal kemudian memasuki tahap baru. Pada 4 Juni 1950 digelar pertemuan para pemuka di Kabupaten Cianjur untuk membahas pendirian sekolah menengah Islam, sementara Sekolah Menengah Islam (SMI) Al-I’anah didirikan pada 1 Agustus 1950 dengan H.R.N. Abubakar sebagai kepala sekolah.
SMI Al-I’anah pada awalnya memiliki 20 murid. Sejumlah guru dari SMP Negeri juga turut memberikan tenaga dan keahliannya, di antaranya B. Endropranoto yang mengajar Ilmu Alam, S. Mulyosuhardjo mengajar Bahasa Indonesia, serta sejumlah guru lain untuk bidang ilmu umum dan agama.

Perubahan kelembagaan kembali terjadi pada 11 Desember 1962. Berdasarkan Akta Notaris Abdullatif, Perguruan Al-I’anah secara resmi menjadi Yayasan Perguruan Islam (YPI) Al-I’anah, dengan H.R.N. Abubakar tercatat sebagai salah satu badan pendiri sekaligus Ketua Badan Pengurus hingga akhir hayatnya pada 3 April 1984.
Dalam perkembangannya hingga momentum peringatan 70 tahun Al-I’anah pada 1982, YPI Al-I’anah telah menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan formal dan nonformal. Lembaga tersebut mencakup TK Al-I’anah, Madrasah Ibtidaiyah yang sebelumnya bernama Madrasah Al-I’anah, SMP Al-I’anah, SMA Al-I’anah, Sekolah Teknologi Menengah Al-I’anah (STEKMAL), Sekolah Pendidikan Guru Al-I’anah (SPGAI), Fakultas Tarbiyah Al-I’anah atau perguruan tinggi, Madrasah Diniyah Al-I’anah serta Majelis Ta’lim Al-I’anah.
Dalam catatan sejarah Al-I’anah disebutkan, “Maksudnya untuk mendirikan sebuah Madrasah yang sesuai dengan panggilan zaman.” Perjalanan tersebut menggambarkan perkembangan Al-I’anah dari sebuah madrasah yang didirikan pada 1912 menjadi yayasan yang menyelenggarakan pendidikan dalam berbagai jenjang.
Sejumlah alumni Al-I’anah kemudian dikenal memiliki kiprah di bidang pendidikan, dakwah, pemerintahan dan organisasi Islam. Di antaranya KH. Endang Abdurrahman yang pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), KH. Ali Ghazaly yang dikenal sebagai ahli ilmu falak, serta sejumlah tokoh lainnya.
Dengan perjalanan lebih dari satu abad, sejarah Al-I’anah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan Islam di Cianjur. Catatan sejarah tersebut juga menunjukkan peran para pendiri, guru, alumni dan masyarakat dalam mempertahankan serta mengembangkan lembaga pendidikan tersebut dari masa kolonial, masa perjuangan kemerdekaan hingga perkembangan pendidikan formal setelah Indonesia merdeka.
Credit tulisan: Tatang Hidayat (Pegiat Student Rihlah Indonesia). (Ben)














Comment