Wartacianjurnews.com – Praktik pengobatan mandi rebus dilakukan oleh Bah Idim Dimyati (70) di Kp Cikole, Desa Cibinonghilir, Kecamatan Cilaku. Metode ini disebut telah dijalankan sejak tahun 2000 dan masih berlangsung hingga kini.
Bah Idim menyampaikan awalnya ia hanya melakukan pijat tradisional sebelum mempelajari metode tersebut. “Berjalan mulai tahun 2000. Awalnya dulu cuma pijat, pakai palu, pakai pahat,” ujarnya saat diwawancarai.
Ia menjelaskan, metode tersebut dipelajari dari seorang guru di wilayah Bayah, Banten. “Belajarnya mungkin 3 bulan. Itu di daerah Cilowong atau Pasir Nangka, Bayah, Banten. Namanya Uyut Jangkung,” katanya.

Dalam praktiknya, pasien menjalani proses perendaman dalam wadah berisi air hangat yang kemudian dipanaskan secara bertahap. Bah Idim menyebut metode itu digunakan untuk berbagai keluhan kesehatan. “Jadi banyak orang yang sakit rematik, asam urat, stroke. Dimasukin ke drum, pakai air hangat, dipanaskan, setelah itu dipijat,” ucapnya.
Selain itu, ia juga menyebut adanya metode tambahan berupa doa-doa tertentu dalam praktik tersebut. “Dengan metode kita baca khususnya doanya penangkal sihir. Jadi ada juga rukiah menggunakan mandi rebus,” katanya.
Bah Idim mengaku pasien yang datang berasal dari berbagai daerah, termasuk luar negeri. “Ada dari Belanda, dari Timur Tengah seperti Arab Saudi, Emirat, Brunei, Malaysia. Kalau di dalam negeri ada dari Lombok,” ujarnya.
Terkait biaya, ia menyebut layanan diberikan secara sukarela tanpa tarif tetap. “Di sini itu sukarela, seikhlasnya. Kalau nggak mampu juga nggak dipungut biaya,” kata Bah Idim.
Ia menambahkan, jumlah pasien saat ini tidak sebanyak sebelumnya karena beberapa orang yang pernah belajar darinya telah membuka praktik serupa di daerah lain. (Ben)














Comment