Ketika Air Masih Bernyanyi di Curug Citambur, Wisata yang Tetap Memesona Saat Kemarau

Wartacianjurnews.com – Gemuruh air terdengar bahkan sebelum Curug Citambur terlihat dari kejauhan. Di tengah musim kemarau yang mulai mengeringkan sejumlah aliran sungai dan air terjun di Cianjur Selatan, suara itu masih memecah sunyi pegunungan, seolah menegaskan bahwa alam masih menyimpan kehidupan.

Sore itu, rombongan Polres Cianjur memilih bermalam di kawasan wisata Curug Citambur, Desa Karangjaya, Kecamatan Pasirkuda, sebelum menghadiri pembukaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 di Desa Sukamekar, Kecamatan Cibinong sebagai tamu undangan.

Sesampainya di lokasi, personel Polres Cianjur memanfaatkan waktu untuk menikmati panorama alam. Ada yang mengabadikan momen bersama di depan air terjun, menyusuri jalur setapak menuju titik pandang terbaik, hingga menikmati kesejukan udara pegunungan yang masih alami.

Namun, kunjungan itu tidak hanya diisi dengan menikmati keindahan alam.

Beberapa personel Polres Cianjur tampak memungut sampah yang berserakan di sekitar kawasan wisata. Botol plastik, bungkus makanan, dan sampah lain yang ditinggalkan pengunjung dikumpulkan agar area sekitar Curug Citambur tetap bersih.

Aksi sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga destinasi wisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola, tetapi juga seluruh pengunjung yang datang menikmati keindahan alam.

Di balik panorama yang memukau, Curug Citambur menyimpan cerita lain.

Musim kemarau yang telah berlangsung hampir dua bulan memang membuat debit air sedikit berkurang. Namun, air terjun setinggi sekitar 130 meter itu tetap mengalir deras ketika sebagian besar air terjun lain di kawasan Cianjur Selatan mulai kehilangan aliran airnya.

“Yang masih bertahan air hanya Curug Citambur. Curug-curug lain seperti Curug Ciburut dan Curug Cipele sudah mulai mengering,” ujar Yuce, pengelola Curug Citambur.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena Curug Citambur memperoleh pasokan air dari sejumlah mata air yang berada di kawasan hutan pegunungan, mulai dari Gunung Hayuwarti, Gunung Tikukur hingga kawasan perbatasan Gunung Halu. Banyaknya aliran air yang menyatu membuat debit Curug Citambur tetap terjaga meski kemarau berlangsung.

Air terjun ini memiliki dua tingkatan. Air pertama jatuh dari ketinggian sekitar 110 meter, kemudian kembali mengalir sekitar 20 meter sebelum akhirnya menuju aliran sungai di bawahnya, sehingga total ketinggiannya mencapai sekitar 130 meter.

Bagi masyarakat sekitar, Curug Citambur bukan hanya objek wisata.

Air yang mengalir dari kawasan tersebut menjadi sumber kehidupan bagi ribuan warga di Desa Karangjaya dan Desa Girimukti. Mata air Curug Citambur dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

“Air dari sini dimanfaatkan masyarakat dua desa. Ini sumber air utama mereka,” kata Yuce.

Keberadaan Curug Citambur juga membawa dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

Yuce mengatakan, jumlah kunjungan wisatawan mengalami peningkatan signifikan sejak awal tahun 2026. Dibandingkan sebelumnya, jumlah pengunjung hampir meningkat dua kali lipat.

“Januari dan Februari peningkatannya sangat signifikan,” ujarnya.

Selain menikmati panorama air terjun, pengunjung dapat mencoba berbagai wahana seperti selfie deck, terapi ikan, dan kawasan Lembah Citambur. Pengelola juga menyediakan cottage dan rumah inap dengan tarif mulai Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per malam.

Untuk menikmati kawasan wisata ini, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp15 ribu per orang. Tarif parkir kendaraan roda dua Rp4 ribu dan mobil Rp7 ribu, sedangkan wahana swafoto dikenakan biaya Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, termasuk paket terapi ikan.

Tak hanya wisatawan domestik, Curug Citambur juga mulai dikenal wisatawan mancanegara.

Menurut Yuce, dalam beberapa waktu terakhir wisatawan asal negara-negara Arab menjadi pengunjung asing yang paling sering datang. Sebagian bahkan memilih menghabiskan waktu selama dua hingga tiga hari dengan menginap di kawasan wisata.

“Mereka bilang tempat ini sangat indah,” tuturnya.

Meski demikian, masih ada satu catatan yang hampir selalu disampaikan para wisatawan.

Akses jalan menuju Curug Citambur dinilai masih perlu mendapat perhatian. Kondisi jalan dari gerbang masuk hingga lokasi wisata menjadi keluhan yang paling sering disampaikan pengunjung, termasuk wisatawan asing.

Harapan agar infrastruktur menuju kawasan wisata terus diperbaiki pun disampaikan pengelola. Dengan potensi alam yang dimiliki, Curug Citambur dinilai mampu menjadi salah satu destinasi unggulan Kabupaten Cianjur yang dapat menarik lebih banyak wisatawan.

Bagi rombongan Polres Cianjur, singgah di Curug Citambur menjadi kesempatan menikmati wajah lain Cianjur Selatan sebelum menghadiri pembukaan TMMD ke-129 sebagai tamu undangan. Di sela padatnya aktivitas, gemuruh air yang terus mengalir, hijaunya pepohonan, dan udara pegunungan menghadirkan jeda yang sederhana namun berkesan.

Di tengah musim kemarau, Curug Citambur membuktikan bahwa alam yang terjaga akan terus memberi manfaat. Bukan hanya menghadirkan panorama yang memikat mata, tetapi juga menghidupi ribuan warga, menggerakkan roda perekonomian masyarakat, dan menjadi pengingat bahwa keindahan alam akan tetap lestari jika setiap orang ikut menjaganya. (Ben)

Comment