Oleh Fadilah Munajat
Perjalanan menuju selatan Cianjur selalu punya cerita sendiri. Jalan berkelok, tanjakan panjang, dan sesekali hamparan hutan yang sunyi menjadi teman setia sepanjang perjalanan. Dari pusat kota, jarak 80 hingga 90 kilometer terasa bukan sekadar angka. Ia menjelma menjadi waktu tiga hingga empat jam yang perlahan menguji kesabaran.
Memasuki Desa Wargaasih, Kecamatan Kadupandak, cerita itu berubah arah. Aspal mulai menghilang, digantikan tanah liat yang bergelombang dan berbatu. Roda kendaraan sesekali tergelincir, tubuh terombang-ambing mengikuti kontur jalan yang jauh dari kata nyaman. Di titik ini, perjalanan tak lagi soal jarak, tapi tentang niat.
Namun, seperti rahasia yang dijaga alam, keindahan seringkali bersembunyi di balik jalan yang sulit. Dan benar saja, semua rasa lelah itu runtuh seketika.
Di hadapan mata, Curug Dadali berdiri megah. Airnya jatuh lebar seperti tirai putih raksasa, mengalir dari tebing tinggi yang dipeluk hijaunya pepohonan. Suara gemuruhnya bukan sekadar bising air jatuh, melainkan seperti panggilan alam yang menenangkan. Di bawahnya, batu-batu besar diselimuti lumut hijau segar, seolah menjadi karpet alami yang menyambut siapa pun yang datang.
Kabut tipis dari percikan air melayang di udara, menyentuh wajah dengan dingin yang menyegarkan. Mata dimanjakan, pikiran ditenangkan.
Di titik itu, perjalanan yang berat terasa seperti bagian dari ritual, sebuah proses untuk benar-benar “layak” menikmati keindahan yang tersaji.
Curug Dadali bukan sekadar destinasi. Ia lebih dari itu.
Di balik deras airnya, tersimpan kenangan yang tak bisa diulang. Tentang perjalanan bersama, tawa yang pernah pecah di antara suara air, dan momen-momen sederhana yang kini hanya bisa diingat. Tempat ini menjadi saksi bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemudahan, tapi justru dari perjuangan yang dilalui bersama.
Curug Dadali mengajarkan satu hal, bahwa keindahan sejati bukan hanya soal apa yang kita lihat, tapi juga apa yang kita rasakan dan siapa yang pernah ada di sana bersama kita.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa tempat ini tak pernah terasa biasa. (**)













Comment