Oleh Fadilah Munajat/ Wartacianjurnews.com
Sindangbarang – Rumah itu berdiri sederhana di Kampung Kiaramenyan, Desa Sirnagalih, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur.
Atapnya ditutup genteng tua yang susunannya tampak tidak lagi rapi. Sejumlah bagian terlihat bergeser. Di bawahnya, tiang dan rangka kayu menopang bangunan yang telah lama menjadi tempat Supian (52) dan istrinya, Hena (32), menjalani kehidupan.
Dinding rumah didominasi papan dan material sederhana. Warnanya telah kusam dimakan usia. Sebagian bagian rumah bahkan ditutup menggunakan papan kayu. Jendela-jendelanya menggunakan rangka sederhana yang juga tampak tua.
Di bagian depan, sebuah teras dari papan menjadi tempat keduanya duduk. Teras itu ditopang dengan penyangga sederhana, sementara bebatuan terlihat di bawahnya. Halaman rumah masih berupa tanah dan bebatuan.
Tidak ada kemewahan di rumah tersebut. Yang ada adalah kesederhanaan dan jejak panjang perjuangan sepasang suami istri yang hampir enam tahun bertahan di tempat tinggal yang jauh dari kata layak.
Bagi Supian dan Hena, rumah itu bukan sekadar bangunan tua. Di sanalah mereka tidur, beristirahat, berbagi cerita, dan menjalani hari-hari dalam keterbatasan.
Hampir enam tahun mereka bertahan.
Waktu berjalan, tetapi kondisi rumah belum banyak berubah. Keinginan untuk memperbaikinya selalu ada, namun kemampuan ekonomi membuat Supian belum mampu mewujudkannya secara mandiri.
“Selama hampir enam tahun, saya dan istri tetap bertahan di rumah sederhana ini meski kondisi bangunannya sangat memprihatinkan,” ujar Supian, Kamis (8/10/2026).
Bagi Supian, memiliki rumah layak bukanlah tentang kemewahan.
Ia tidak meminta bangunan besar. Tidak pula berharap rumah yang bagus dengan segala fasilitas. Keinginannya sederhana, memiliki tempat tinggal yang lebih kokoh dan aman untuk dirinya bersama sang istri.
Sebab, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung itu kini justru masih membutuhkan banyak perhatian.
Ketika kemampuan ekonomi tidak mampu menjangkau biaya perbaikan, harapan Supian kemudian tertuju kepada pemerintah melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Ia berharap pemerintah tidak hanya mengetahui namanya dari sebuah daftar pendataan. Ia ingin kondisi rumahnya dilihat secara langsung, agar apa yang selama ini menjadi keluhannya bisa benar-benar dipahami.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, baik Pemkab Cianjur maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan bantuan untuk memperbaiki rumah,” katanya.
Bukan Sekadar Sebuah Rumah
Duduk di teras rumah sederhananya, Supian dan Hena mungkin hanya bisa menunggu.
Menunggu bantuan. Menunggu kabar. Menunggu harapan yang selama ini mereka simpan berubah menjadi kenyataan.
Bagi orang lain, memperbaiki rumah mungkin hanya perkara membangun dinding, mengganti atap, atau memperbaiki bagian yang rusak.
Namun bagi Supian, memperbaiki rumah berarti menghadirkan kembali rasa aman.
Ia ingin memiliki tempat tinggal yang ketika hujan turun tidak membuatnya cemas. Tempat yang cukup kokoh untuk melindungi dirinya dan Hena. Tempat sederhana yang bisa mereka tinggali tanpa harus terus memikirkan kondisi bangunannya.
“Saya berharap pemerintah dapat melihat langsung kondisi kami. Kami menunggu perhatian pemerintah agar impian kami memiliki rumah yang lebih layak tidak kembali menjadi penantian panjang,” ucapnya.
Penantian itu sudah berlangsung hampir enam tahun.
Dan selama penantian tersebut, rumah tua itu tetap menjadi saksi bagaimana Supian dan Hena bertahan.
Pengajuan Sudah Dilakukan
Harapan Supian dan Hena sebenarnya telah diketahui Pemerintah Desa Sirnagalih.
Kepala Desa Sirnagalih Sugiono melalui Sekretaris Desa Rahmat Taufik mengatakan, pemerintah desa telah berupaya mengajukan bantuan perbaikan rumah pasangan tersebut melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau program Rumah Tidak Layak Huni (RLTH).
Menurut Rahmat, pengajuan tersebut dilakukan agar warga yang benar-benar membutuhkan dapat memperoleh tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
Namun bagi Supian dan Hena, pengajuan bukanlah akhir dari perjalanan. Mereka masih menunggu tindak lanjut.
“Saya berharap pengajuan Rutilahu tidak berhenti sebatas pendataan atau administrasi. Ada tindak lanjut nyata agar warga kami yang benar-benar membutuhkan bisa segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak,” kata Rahmat.
Hampir enam tahun Supian dan Hena bertahan di rumah itu.
Genteng tua masih menaungi mereka. Papan-papan sederhana masih menjadi dinding. Teras kecil masih menjadi tempat keduanya duduk melewati hari.
Rumah itu mungkin sederhana, bahkan jauh dari kata layak.
Tetapi bagi Supian dan Hena, di sanalah kehidupan mereka berlangsung.
Kini, mereka tidak sedang menunggu rumah mewah.
Mereka hanya menunggu sebuah rumah yang lebih kokoh, lebih aman, dan lebih layak untuk ditinggali.
Sebuah rumah yang tidak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga tempat untuk kembali merasa tenang. (**).














Comment