Dari Suara Tambur hingga Legenda Lama Asal-usul Nama Curug Citambur

Oleh Fadilah Munajat

Kabut turun perlahan di lereng Pasirkuda. Pagi belum sepenuhnya terang, tapi suara itu sudah lebih dulu hadir, gemuruh panjang yang menggema dari balik tebing. Air jatuh tanpa henti, menghantam batuan di bawahnya, memecah sunyi menjadi irama yang tak biasa.

Bagi orang yang baru datang, suara itu mungkin hanya derasnya air. Tapi bagi Yanceu, suara itu punya arti lebih.

Ia berdiri tak jauh dari aliran yang terus mengalir itu. Sudah bertahun-tahun, ia menghabiskan waktunya di sini, menyambut pengunjung, menjaga kebersihan, dan sesekali bercerita tentang tempat yang ia kenal sejak kecil.

“Dari dulu, suaranya memang seperti itu,” ucapnya pelan. “Kalau air lagi besar, bunyinya seperti tambur… bergemuruh.”

Dari situlah, kata “Citambur” dipercaya lahir. Bukan dari buku sejarah, bukan pula dari catatan resmi, melainkan dari apa yang didengar dari suara alam yang terus berbicara, dari generasi ke generasi.

Di kampung sekitar, cerita itu bukan hal baru. Orang-orang tua dulu sering mengisahkannya, sambil duduk di beranda rumah atau di tengah sawah. Mereka menyebut bahwa suara itu seperti tabuhan tambur kuat, dalam, dan terasa sampai ke dada.

Namun, ada pula cerita lain yang ikut hidup di antara percakapan warga.

Konon, pada masa lampau, kawasan ini pernah menjadi bagian dari wilayah kerajaan. Setiap kali sang raja hendak menuju air terjun, para pengawal akan menabuh tambur sebagai tanda. Suaranya menggema, menyusuri lembah, menyatu dengan suara air yang jatuh dari ketinggian.

Yanceu tersenyum kecil saat menceritakan itu.

“Cerita itu saya dengar dari orang tua dulu,” katanya. “Entah benar atau tidak, tapi yang pasti… suara airnya memang seperti tambur. Itu yang selalu orang ingat.”

Di ketinggian pegunungan, Citambur tidak hanya menghadirkan pemandangan. Ia menghadirkan rasa. Dingin yang menusuk kulit, kabut yang datang tanpa aba-aba, dan suara yang terus mengalun tanpa jeda.

Bagi Yanceu, semua itu bukan sekadar daya tarik wisata. Ini adalah bagian dari hidupnya.

Setiap hari, ia kembali ke tempat yang sama. Mendengar suara yang sama. Dan entah sejak kapan, suara itu bukan lagi sekadar gemuruh, melainkan seperti panggilan yang akrab.

“Kalau tidak ada suara itu, rasanya sepi,” ujarnya sambil memandang ke arah jatuhnya air.

Mungkin benar, Citambur bukan hanya tentang air terjun. Ia adalah tentang suara yang tinggal lebih lama dari yang terlihat. Tentang ingatan yang diwariskan tanpa tulisan. Tentang alam yang, dengan caranya sendiri, terus bercerita.

Dan selama air itu masih jatuh dari ketinggian, selama gema itu masih terdengar di antara kabut dan pepohonan, nama Citambur akan tetap hidup, sebagai suara yang tak pernah benar-benar pergi. (**)

Comment