Oleh Fadilah Munajat
Di sudut selatan Kabupaten Cianjur, tepatnya di Kecamatan Sukanagara, ada sebuah ruang terbuka yang tak sekadar menjadi tempat berkumpul. Warga menyebutnya dengan nama yang sederhana namun penuh makna: Alun-Alun Cinta.
Terletak di Kampung Kalibaru, Desa Sindangsari, alun-alun ini bukanlah taman megah dengan gemerlap lampu kota. Ia hadir dengan kesederhanaannya, hamparan lapang, udara yang masih bersih, serta suasana hangat khas pedesaan. Namun justru di sanalah letak daya tariknya.
Setiap sore, langkah kaki mulai berdatangan. Anak-anak berlarian tanpa beban, orang tua duduk santai di pinggir lapangan, sementara remaja sibuk mengabadikan momen dengan latar sederhana yang terasa istimewa. Tidak ada batasan, tidak ada sekat. Semua larut dalam suasana yang sama, kebersamaan.
Nama “Cinta” bukan sekadar hiasan. Ia lahir dari harapan—tentang ruang yang mampu menghadirkan rasa memiliki, mempererat hubungan antarwarga, dan menjadi tempat pulang bagi siapa saja yang ingin melepas penat. Di sini, tawa anak-anak dan obrolan ringan orang dewasa menjadi harmoni yang tak dibuat-buat.
Kepala Desa Sindangsari, Ayi Rusli, mengatakan bahwa keberadaan Alun-Alun Cinta memang dirancang sebagai ruang publik yang bisa dinikmati semua kalangan. “Kami ingin menghadirkan tempat yang bukan hanya untuk berkumpul, tetapi juga mempererat kebersamaan warga. Nama ‘Cinta’ sendiri mencerminkan harapan agar masyarakat saling peduli dan menjaga lingkungan ini bersama,” ujarnya.
Menurutnya, alun-alun ini juga menjadi bagian dari upaya desa dalam mengembangkan potensi wisata lokal. Dengan konsep sederhana namun fungsional, Alun-Alun Cinta diharapkan mampu menarik perhatian pengunjung tanpa menghilangkan karakter asli pedesaan.
Alun-Alun Cinta juga menjadi simbol tumbuhnya kesadaran desa akan pentingnya ruang publik. Dibangun sebagai bagian dari pengembangan wisata desa, tempat ini perlahan menjelma menjadi ikon Sindangsari. Bukan karena kemewahannya, tetapi karena fungsinya yang nyata, menghidupkan interaksi sosial dan memberi ruang bagi masyarakat untuk saling terhubung.
Ketika malam mulai turun, suasana berubah menjadi lebih tenang. Lampu-lampu sederhana menerangi sudut-sudut alun-alun, menghadirkan nuansa hangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di sinilah, banyak orang memilih untuk sekadar duduk, berbincang, atau bahkan merenung dalam diam.
“Ke depan, kami akan terus menata dan melengkapi fasilitas yang ada, agar Alun-Alun Cinta ini bisa menjadi kebanggaan desa sekaligus destinasi yang nyaman bagi siapa saja yang datang,” tambah Ayi Rusli.
Alun-Alun Cinta mengajarkan satu hal sederhana, bahwa kebahagiaan tak selalu datang dari tempat yang mewah. Kadang, ia justru hadir dari ruang sederhana yang dipenuhi rasa, rasa kebersamaan, rasa memiliki, dan tentu saja, rasa cinta.
Dan di Sukanagara, cinta itu punya tempatnya sendiri. (**)













Comment