Wartacianjurnews.com – Pimpinan Cabang Persatuan Islam (PERSIS) Cianjur menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku Persatuan Islam Cianjur dan Seminar Kepemimpinan & Manajemen Kepesantrenan di Gedung MTs PERSIS 04 Cianjur sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat tradisi keilmuan, memperkokoh tata kelola kelembagaan, serta menyiapkan kepemimpinan pesantren yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar perjuangan Persatuan Islam.
Mengusung semangat “Mewujudkan Pesantren PERSIS 04 Cianjur yang Berkemajuan, Mandiri, dan Berdaya Saing di Era Modern”, kegiatan ini menghadirkan unsur pimpinan Persis, pengelola pesantren, guru, muballigh, alumni, serta pegiat pendidikan Islam untuk bersama-sama merefleksikan perjalanan sejarah Persatuan Islam di cianjur dan menyiapkan langkah strategis menghadapi tantangan masa depan.
Acara diawali dengan registrasi peserta, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan Ketua Panitia, serta sambutan Ketua PC PERSIS Cianjur yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Setelah itu, peserta mengikuti sesi Bedah Buku Persatuan Islam Cianjur yang mengulas perjalanan dakwah, pendidikan, dan kaderisasi Persatuan Islam di Kabupaten Cianjur.
Pada sesi bedah buku, panitia menghadirkan Ilham Maulana, S.Pd.I, seorang guru, muballigh, dan kader Persatuan Islam yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang organisasi, kaderisasi, dan dakwah. Beliau menempuh pendidikan di lingkungan Persatuan Islam sejak MTs dan MA Persis hingga menyelesaikan pendidikan tinggi di STAI Persis dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saat ini beliau mengemban amanah sebagai Koordinator Instruktur Badiklat PP Persis serta Sekretaris PC Persis Cianjur.
Dalam pemaparannya, Ilham Maulana, S.Pd.I mengajak peserta melihat sejarah Persatuan Islam bukan semata-mata sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, melainkan sebagai sumber pelajaran yang harus menjadi pijakan dalam membangun masa depan organisasi dan pesantren.
“Jika kita menelusuri perjalanan Persatuan Islam di Cianjur, para tokoh terdahulu bukan hanya hadir sebagai pemimpin organisasi. Mereka adalah ayah, guru, sekaligus sahabat bagi jamaah. Hubungan yang terjalin bukan sekadar hubungan struktural, tetapi ikatan batin yang dibangun oleh perjuangan, keteladanan, dan kebersamaan dalam dakwah.” Tutur Ilham Maulana, mengutip perkataan para pembanding.
Menurutnya, kekuatan Persatuan Islam pada masa awal tumbuh dari kedekatan antara tokoh dan jamaah yang dipupuk melalui aktivitas pendidikan dan kehidupan berjamaah sehari-hari.
“Tempat yang paling dirindukan pada masa itu bukanlah fasilitas atau kemewahan, melainkan pesantren, madrasah, dan masjid. Di sanalah lahir kecintaan terhadap ilmu, tumbuhnya ukhuwah, serta terbentuknya karakter kader-kader Persis yang istiqamah dalam perjuangan.” kenang ilham menuturkan perkataan para pendahulunya.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan pentingnya menjaga warisan nilai yang telah menjadi fondasi Pesantren Persis 04 Cianjur sejak generasi awal pendirinya.
Dalam kesempatan tersebut, Ilham Maulana, S.Pd.I juga menyinggung perjalanan panjang pendidikan Persis di Cianjur yang telah berkontribusi bagi masyarakat selama puluhan tahun.
“Perjalanan lembaga pendidikan Persis bukanlah perjalanan yang singkat. Keberadaan Sekolah Rakyat (SR) sejak tahun 1947 menjadi bukti bahwa Persatuan Islam telah lama mengambil peran dalam mencerdaskan umat dan membangun masyarakat melalui pendidikan.”
Beliau menambahkan bahwa sejarah tidak boleh berhenti sebagai dokumentasi tertulis, tetapi harus menjadi pelajaran kolektif bagi generasi penerus.
“Keberadaan jamaah pada masanya sering kali bertumpu pada keteladanan tokoh-tokoh yang hadir di tengah masyarakat. Karena itu, fakta sejarah dan para saksi sejarah harus dijadikan pelajaran sekaligus peringatan agar generasi hari ini tidak kehilangan arah dalam melanjutkan estafet perjuangan.” pungkasnya
Setelah sesi bedah buku, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Kepemimpinan dan Manajemen Kepesantrenan yang menghadirkan Agus Nurdin Rasyad, Ph.D, praktisi Human Resource Management (HRM), trainer kepemimpinan, dan konsultan pengembangan organisasi. Dengan pengalaman profesional di PT Telkom Indonesia serta kiprah organisasi di lingkungan Persatuan Islam dan berbagai lembaga kemasyarakatan, beliau membagikan perspektif mengenai kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, dan tata kelola kelembagaan pesantren.
Dalam seminar tersebut, peserta diajak memahami bagaimana pesantren dapat membangun sistem organisasi yang kuat, profesional, dan berkelanjutan dengan tetap menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi utama. Penguatan kepemimpinan dipandang sebagai kebutuhan strategis untuk memastikan pesantren mampu menghadapi tantangan perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan tuntutan peningkatan mutu pendidikan.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar Persatuan Islam Cianjur untuk memperkuat sinergi, merawat nilai-nilai keumatan, serta meneguhkan kembali peran pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, kaderisasi, dan pemberdayaan masyarakat. (redaksi).













Comment