Wartacianjurnews.com – Kondisi pendidikan di SDN Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, masih menghadapi persoalan serius. Tiga tahun belajar di tenda menjadi kenyataan bagi 16 siswa kelas 5 dan 6 setelah ruang kelas mereka ambruk akibat bencana pada 2022.
Kondisi tersebut membuat kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan fasilitas terbatas. Tidak hanya kehilangan ruang kelas, puluhan siswa lainnya juga harus mengikuti pembelajaran di tengah kondisi bangunan sekolah yang sebagian besar mengalami kerusakan.
Kepala SDN Karyamukti, Ninu Parwati, menjelaskan sekolah yang berdiri sejak 1965 itu semula memiliki enam ruangan, terdiri dari lima ruang kelas dan satu ruang guru. Namun, bencana pada 2022 menyebabkan dua ruang kelas ambruk, sementara dua ruangan lainnya mengalami kerusakan berat.

“Hampir seluruh bangunan sudah rusak. Tapi karena gempa pada 2022 lalu, dua bangunan ambruk dan dua ruangan lainnya rusak berat. Jadi hanya sekitar dua kelas yang masih bisa digunakan untuk belajar. Itupun rawan ambruk, kondisinya juga sudah banyak bagian yang rapuh,” ujar Ninu, Senin (2/11/2026).
Sejak kejadian tersebut, siswa kelas 5 dan 6 terpaksa memanfaatkan tenda bantuan BNPB sebagai tempat belajar. Kondisi ini turut memengaruhi kegiatan belajar, terutama ketika cuaca tidak bersahabat.
“Kalau musim kemarau kepanasan, kalau musim hujan kena cipratan air hujan. Makanya kadang kalau sudah terlihat mendung, siswa dipulangkan lebih awal. Jadinya proses pembelajaran tidak efektif,” ungkapnya.
Ninu menyebut pihak sekolah telah berulang kali mengajukan bantuan perbaikan maupun pembangunan ruang kelas. Namun, menurutnya, bantuan yang diterima selama ini masih berupa tenda pengganti, belum pembangunan ruang kelas permanen.
Ia juga mengungkapkan adanya kekhawatiran terkait kondisi tanah yang dinilai labil. Sejumlah pihak yang pernah diajak berkomunikasi mengenai pembangunan disebut mempertanyakan ketahanan bangunan jika kembali didirikan di lokasi tersebut.
“Betul, kami komunikasi dengan beberapa pihak terkait perbaikan ruang kelas. Tapi malah bilang percuma, nanti rusak lagi kalau dibangun. Jujur sedih mendengar ucapan seperti itu. Karena kalau tanahnya labil, kan bisa dipasarkan atau cari lahan lain,” katanya.
Menurut Ninu, keberadaan sekolah tersebut sangat penting bagi masyarakat sekitar. Sebab, jika SDN Karyamukti tidak lagi beroperasi, para siswa harus menempuh perjalanan sekitar empat kilometer menuju sekolah terdekat.
Pihak sekolah berharap pemerintah dan instansi terkait segera memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut, termasuk mencarikan solusi pembangunan ruang kelas yang aman agar kegiatan belajar mengajar tidak terus berlangsung di tenda darurat. (Ben)













Comment