Wartacianjurnews.com – Perjuangan Erik Setiawan (16), warga Kampung Cikawung, Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, untuk mendapatkan pengobatan penyakit tuberkulosis (TB) tulang masih menghadapi kendala berat.
Selama hampir dua tahun, Erik harus menjalani pengobatan akibat penyakit yang kondisinya kini semakin parah. Jarak dan akses menuju fasilitas kesehatan menjadi salah satu hambatan utama bagi keluarga.
Orang tua Erik, Warsa (53), mengatakan, sebelumnya anak bungsunya tersebut sempat menjalani pengobatan di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Saat itu, Erik diwajibkan menjalani kontrol secara rutin setiap 15 hari.
Namun, kondisi geografis menjadi kendala. Dari rumah menuju jalan yang dapat dilalui kendaraan, Erik harus dibawa menggunakan tandu sejauh sekitar tiga kilometer.
“Kalau harus kontrol 15 hari sekali, kami kesulitan karena dari kampung sampai ke jalan harus ditandu sekitar tiga kilometer,” ujar Warsa, Jumat (4/9/2026).
Setelah tidak lagi rutin menjalani kontrol di RSHS, keluarga sempat membawa Erik berobat ke puskesmas dan praktik dokter. Namun, kondisinya justru semakin memburuk.
Saat ini, Erik masih menjalani observasi di Puskesmas Cidaun setelah sebelumnya mendapat pemeriksaan di Puskesmas Cibuluh, dan selanjutnya akan dirujuk ke RSUD Pagelaran.
Tenaga medis Puskesmas Cibuluh menjelaskan, Erik telah mendapatkan penanganan medis, termasuk pemasangan infus, perawatan luka serta pemberian oksigen karena mengalami sesak.
Menurutnya, kondisi TB tulang yang dialami Erik merupakan perkembangan dari penyakit TB yang sebelumnya diderita. Ia menegaskan pentingnya menjalani pengobatan hingga tuntas dan tidak menghentikannya di tengah jalan.
“Kalau untuk pengobatan, berobatlah sampai beres, sampai tuntas. Jangan setengah-setengah karena efeknya sangat berbahaya,” katanya.
Ia mengungkapkan, ketika masih menjalani pengobatan di RSHS, kondisi Erik sempat membaik. Bahkan, Erik sudah mampu menggunakan kursi roda dan masih bermain layang-layang.
Namun, setelah pengobatan tidak dilanjutkan secara rutin, keluarga kemudian mencoba pengobatan herbal berdasarkan informasi dari lingkungan sekitar. Setelah itu, muncul luka pada tubuh Erik.
“Awalnya cuma meningitis dan TB paru, belum TB tulang. Kalau sekarang sudah TB tulang,” ujarnya.
Pihak medis pun mengingatkan masyarakat agar tidak menghentikan pengobatan medis tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan. Pengobatan TB membutuhkan kepatuhan dan penanganan berkelanjutan untuk mencegah kondisi semakin berat.
Sementara itu, Camat Cidaun Gagan Rusganda mengatakan, setelah menerima laporan mengenai kondisi Erik, pihak kecamatan langsung melakukan komunikasi lintas sektor untuk mencari solusi dan membantu proses pengobatan.
Pihak kecamatan juga memberikan bantuan yang bersumber dari uang seribu rupiah yang dikumpulkan untuk membantu biaya Erik selama menjalani pengobatan di RSUD Pagelaran.
“Setelah mendapat laporan, kami langsung melakukan komunikasi lintas sektoral. Untuk membantu warga, pihak kecamatan memberikan bantuan untuk biaya selama berobat di RSUD Pagelaran,” kata Gagan.
Kisah Erik menjadi gambaran bahwa persoalan kesehatan di wilayah pelosok tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan layanan medis, tetapi juga akses menuju fasilitas kesehatan. Bagi keluarga Erik, perjalanan tiga kilometer dengan tandu menjadi perjuangan tersendiri setiap kali harus membawa anaknya mendapatkan perawatan. (dil)














Comment