10 Kilometer dalam Tandu, Perjuangan Siti Menuju Pengobatan TB Tulang

Sejumlah warga menggotong tandu berisi Siti Lestari (16), warga Kiaragoong, Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, melewati jalan desa yang terjal dan berbatu menuju akses kendaraan. Siti harus ditandu lebih dari 10 kilometer menuju wilayah Talegong, Kabupaten Garut, untuk melanjutkan perjalanan ke RS Welas Asih Bandung guna menjalani pengobatan TB tulang.

Wartacianjurnews.com – Jalan setapak itu menjadi saksi perjuangan seorang gadis berusia 16 tahun bernama Siti Lestari. Di tengah kondisi tubuhnya yang sedang sakit, Siti harus menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan pengobatan.

Siti, warga Kiaragoong, Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, menderita penyakit tuberkulosis (TB) tulang. Untuk mendapatkan perawatan di RS Welas Asih, Bandung, ia harus melewati medan yang tidak mudah.

Dalam video yang merekam perjalanan tersebut, tampak beberapa orang berjalan perlahan menyusuri jalan tanah di tengah kawasan yang dipenuhi pepohonan dan semak belukar.

Di antara mereka, Siti tidak berjalan dengan kedua kakinya sendiri. Tubuhnya terbaring di atas tandu sederhana berwarna biru. Empat orang secara bergantian menopang tandu tersebut, membawanya melewati jalan sempit yang menanjak dan berbatu.

Langkah para pengusung terlihat hati-hati. Sesekali mereka harus menyesuaikan posisi tandu agar tetap seimbang ketika melewati permukaan jalan yang tidak rata.

Kondisi itu menggambarkan betapa sulitnya akses warga di wilayah tersebut ketika membutuhkan layanan kesehatan, terutama bagi mereka yang dalam kondisi sakit dan tidak mampu berjalan.

Lebih dari 10 kilometer perjalanan harus ditempuh dengan tandu hingga Siti masuk ke wilayah Kabupaten Garut, tepatnya Kecamatan Talegong.

Bukan tanpa alasan perjalanan menuju Garut dipilih.

Kepala Desa Cibuluh, Ana Supriatna, mengatakan akses menuju wilayah Cianjur menjadi persoalan tersendiri. Selain kondisi jalan yang rusak berat, biaya kendaraan menuju jalur tersebut juga dinilai lebih mahal dibandingkan mengambil jalur melalui Garut.

“Kalau melalui jalur Cianjur, akses jalannya rusak berat. Untuk biaya kendaraan juga lebih mahal. Jalur ke Garut justru menjadi jalur yang lebih dekat,” ujar Ana, Jumat (4/9/2026).

Perjalanan Siti akhirnya menjadi gambaran nyata tentang bagaimana kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur dapat menjadi tantangan besar bagi masyarakat di wilayah pelosok.

Ana menjelaskan, jalan yang dilalui warga tersebut merupakan jalan desa. Sementara kemampuan anggaran desa melalui Dana Desa (DD) terbatas, sehingga pemerintah desa belum mampu memperbaiki seluruh ruas jalan secara menyeluruh.

Keterbatasan itu membuat persoalan akses tidak hanya menyangkut kenyamanan perjalanan, tetapi juga menyentuh kebutuhan paling mendasar: akses menuju layanan kesehatan.

Bagi Siti, jalan yang rusak bukan sekadar persoalan infrastruktur. Jalan itu harus dilalui ketika tubuhnya membutuhkan pertolongan.

Dalam rekaman perjalanan, rombongan terus bergerak. Tandunya diangkat bergantian. Tidak ada kendaraan yang terlihat dapat membawa Siti langsung melewati medan tersebut. Yang tampak hanya jalan tanah, pepohonan dan langkah kaki orang-orang yang berusaha mengantarkannya menuju akses kendaraan.

Satu demi satu langkah dilalui.

Lebih dari 10 kilometer perjalanan dengan tandu menjadi bagian dari ikhtiar Siti untuk mendapatkan pengobatan. Dari Kiaragoong, perjalanan itu membawa Siti melewati wilayah Cibuluh hingga memasuki Talegong, Garut, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit di Bandung.

Perjuangan tersebut sekaligus menyisakan pertanyaan yang lebih besar: bagaimana nasib warga pelosok yang membutuhkan layanan kesehatan ketika akses jalan menuju wilayah mereka masih sulit dilalui?

Bagi masyarakat Cibuluh, kisah Siti bukan hanya tentang seorang remaja yang sedang berjuang melawan penyakit.

Ini juga tentang sebuah jalan yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya penghubung warga dengan dunia luar.

Dan pada hari itu, jalan tersebut kembali menjadi saksi, seorang anak berusia 16 tahun dibawa dalam tandu, menempuh belasan kilometer demi satu harapan: mendapatkan pengobatan dan kembali menjalani kehidupan seperti anak-anak seusianya. (dil)

banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600

Comment