Wartacianjurnews.com – Persoalan sampah di Desa Sukawangi, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Tumpukan sampah yang terlihat di sejumlah aliran sungai tidak hanya berasal dari aktivitas warga setempat, tetapi juga diduga terbawa arus dari wilayah hulu.
Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa KKN Sisdamas kelompok 262 yang ditempatkan di Desa Sukawangi. Saat melaksanakan sensus dan dialog langsung dengan masyarakat di Dusun Satu, RW 10, RT 01, mahasiswa menemukan persoalan sampah menjadi salah satu keluhan yang paling banyak disampaikan warga.
Sampah yang terbawa aliran sungai dari hulu pada akhirnya menumpuk di sejumlah titik. Jika tidak ditangani secara serius, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kebersihan lingkungan, mencemari aliran air, hingga menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.
Anggota Tim KKN Sisdamas 262, Wizki Mulyana Hadiansyah, mengatakan kegiatan sensus yang dilakukan bukan sekadar pendataan warga, tetapi menjadi sarana untuk menggali persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Dari hasil dialog dengan warga, persoalan sampah menjadi salah satu masalah yang paling menonjol. Sampah yang ada di sungai juga tidak semuanya berasal dari wilayah ini, tetapi ada yang terbawa aliran dari hulu,” ujar Wizki, Senin (11/8/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan membersihkan sungai. Penanganan harus dilakukan dari sumbernya dengan melibatkan masyarakat di wilayah hulu hingga hilir.
“Kalau hanya dibersihkan di hilir, sampah akan datang lagi ketika ada aliran dari atas. Artinya, harus ada kesadaran bersama dan penanganan dari hulu sampai ke hilir,” katanya.
Tokoh masyarakat setempat, Olis Suparman, menilai persoalan sampah pada dasarnya dapat diselesaikan apabila kesadaran masyarakat tumbuh secara bersama-sama.
“Aya teu acan sadar sadayana masyarakatna. Lamun sadar masyarakatna, gaduh masalah sakumaha ageung bakal gampil, komo ari sampah mah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan sampah bukan semata-mata persoalan ketersediaan tempat pembuangan atau kegiatan bersih-bersih. Lebih jauh, persoalan itu berkaitan dengan kebiasaan dan kesadaran masyarakat dalam memperlakukan sampah.
Mahasiswa KKN Sisdamas 262 pun mendorong agar persoalan sampah di Desa Sukawangi tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Perlu ada langkah berkelanjutan, mulai dari edukasi masyarakat, pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga, hingga koordinasi antarwilayah untuk mencegah sampah masuk ke aliran sungai.
Sebab, sungai tidak mengenal batas administrasi. Sampah yang dibuang sembarangan di wilayah hulu dapat menjadi beban bagi masyarakat di wilayah hilir.
Karena itu, persoalan sampah di Sukawangi membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah desa, masyarakat, mahasiswa, serta warga di wilayah hulu dan hilir harus duduk bersama mencari solusi.
Tanpa perubahan perilaku dan kesadaran kolektif, kegiatan membersihkan sungai hanya akan menjadi pekerjaan berulang: sampah dibersihkan hari ini, lalu kembali menumpuk ketika kiriman dari hulu datang.
KKN Sisdamas 262 berharap hasil sensus dan dialog dengan masyarakat dapat menjadi pijakan awal untuk mendorong penanganan sampah yang lebih konkret dan berkelanjutan di Desa Sukawangi.
Masalah sampah tidak selesai hanya dengan mengangkut sampah yang sudah menumpuk. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana menghentikan sampah agar tidak terus masuk ke sungai. (dil)













Comment