Wartacianjurnews.com – Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang. Tempat seseorang bisa merebahkan tubuh tanpa dihantui rasa khawatir.
Namun bagi Ubad, anggapan itu tidak lagi sepenuhnya berlaku.
Lelaki lanjut usia warga Kampung Legokjaya, Desa Sukajaya, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, itu kini memilih menghabiskan malam di sebuah kandang kambing.
Rumah yang dimilikinya sudah dalam kondisi nyaris ambruk. Kondisi bangunan yang tidak lagi layak membuat Ubad khawatir untuk tidur di dalamnya. Alih-alih menjadi tempat berlindung, rumah tersebut justru membuatnya harus mencari tempat lain yang dianggap lebih aman.
Pilihan itu jatuh pada kandang kambing.
Kandang tersebut tentu bukan kamar. Bukan pula tempat yang layak disebut rumah. Ruangnya sederhana dan peruntukannya semula hanya untuk hewan ternak.
Namun di tempat itulah Ubad kini beristirahat.
Ia tidur dengan alas seadanya, sementara karung digunakan sebagai bantal. Tidak ada kasur yang nyaman. Tidak ada perabot kamar yang lengkap. Kandang sederhana itu menjadi ruang tidur sekaligus tempat Ubad berlindung ketika malam tiba.
Ironisnya, kandang tersebut dahulu memang digunakan Ubad untuk memelihara kambing.
Ia pernah memiliki seekor kambing yang diharapkan bisa menjadi pegangan hidup. Namun kambing tersebut kemudian dicuri.
Kini ternaknya sudah tidak ada. Kandangnya masih ada. Dan justru kandang itulah yang kemudian menjadi tempat Ubad bertahan.
Setiap kali malam tiba, Ubad menghadapi pilihan yang tidak mudah.
Tetap tidur di rumah yang kondisinya nyaris ambruk atau masuk ke kandang kambing yang sederhana.
Ia memilih kandang. Bukan karena tempat itu nyaman, melainkan karena kondisi rumah membuatnya tidak merasa aman untuk beristirahat di sana.
Di usia senja, ketika tenaga tidak lagi seperti dahulu, Ubad hanya bisa menerima keadaan sembari terus menjalani hari.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung kini lebih banyak ditinggalkan ketika malam datang.
Sementara kandang yang dahulu diperuntukkan bagi seekor kambing justru menjadi tempat seorang manusia tua membaringkan tubuhnya.
Keterbatasan Ubad tidak berhenti pada persoalan tempat tinggal.
Untuk makan setiap hari, ia juga mengandalkan kepedulian tetangga.
Ketika ada warga yang datang membawa makanan, itulah yang disantapnya. Perhatian sederhana dari tetangga menjadi bagian penting dalam kehidupan Ubad.
Ia hidup seorang diri. Istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu. Sementara anaknya berada jauh di luar kota dan memiliki kondisi ekonomi yang sulit, sehingga belum mampu membantu orang tuanya secara maksimal.
Jarak dan keadaan membuat Ubad harus lebih banyak bertahan dengan bantuan orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya.
Ada kesunyian tersendiri ketika melihat tempat Ubad beristirahat.
Kandang yang semula dibuat untuk seekor kambing kini menjadi ruang bagi seorang lansia untuk melewati malam.
Di sana ada alas sederhana tempat tubuhnya dibaringkan.Karung menjadi bantal. Tidak ada banyak pilihan bagi Ubad selain menjalani apa yang ada.
Kondisi itu sekaligus memperlihatkan betapa rentannya kehidupan seorang lansia yang hidup sendirian, tanpa pasangan di sisinya dan dengan anak yang berada jauh serta memiliki keterbatasan ekonomi.
Ubad tidak sedang mencari kehidupan mewah. Ia hanya membutuhkan tempat tinggal yang aman untuk berteduh dan tempat beristirahat yang layak.
Ketika malam semakin larut, Ubad kembali ke kandang yang kini menjadi tempat tidurnya.
Ia membaringkan tubuh di atas alas seadanya, menggunakan karung sebagai bantal.
Di luar, kehidupan kampung mungkin terus berjalan.
Namun di dalam kandang sederhana itu, seorang lelaki tua hanya bisa menunggu pagi. Menunggu hari baru. Menunggu ada tetangga yang datang menyapa. Dan menunggu makanan yang mungkin kembali diberikan kepadanya.
Kisah Ubad menjadi potret kehidupan seorang lansia di tengah keterbatasan: rumah yang nyaris ambruk, tempat tidur yang tidak layak, kehidupan seorang diri, serta kebutuhan makan yang bergantung pada kepedulian orang lain.
Di usia ketika seseorang semestinya mendapatkan ketenangan, Ubad justru masih harus berjuang menemukan tempat yang aman untuk sekadar memejamkan mata.
Bagi Ubad, kandang kambing bukanlah pilihan hidup. Ia adalah tempat terakhir yang masih bisa memberinya ruang untuk berteduh ketika rumah sendiri sudah tak lagi terasa aman. (dil)














Comment