Wartacianjurnews.com – Kondisi Ubad, lansia warga Kampung Legokjaya, Desa Sukajaya, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, yang tinggal di kandang kambing karena rumahnya nyaris ambruk mendapat perhatian Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Cianjur, Irfan Aulia Budiman.
Persoalan Ubad tidak hanya menyangkut kondisi tempat tinggal. Berdasarkan keterangan Sekretaris Desa Sukajaya, Imas, Ubad memang merupakan warga Desa Sukajaya, namun hingga kini belum tercatat dalam desil.
Akibatnya, Ubad juga belum mendapatkan barcode yang menjadi salah satu syarat untuk menukarkan bantuan sembako.
Kondisi tersebut dinilai perlu segera ditindaklanjuti melalui verifikasi data dan kondisi Ubad di lapangan.
“Jangan sampai persoalan administrasi dan pendataan justru membuat warga yang kondisinya sangat membutuhkan menjadi tidak tersentuh bantuan. Kalau memang Ubad warga Desa Sukajaya, pemerintah desa dan dinas terkait harus segera turun, cek kondisi sebenarnya, lalu benahi datanya. Jangan hanya mengatakan belum masuk desil, tetapi berhenti di situ,” tegas Irfan, Rabu (30/9/2026)
Menurut Irfan, kondisi warga di lapangan harus menjadi perhatian dalam proses pendataan. Terlebih, Ubad diketahui hidup seorang diri dan untuk kebutuhan makan sehari-hari masih mengandalkan kepedulian tetangga.
“Orang ini tinggal di kandang kambing karena rumahnya nyaris ambruk dan makan masih mengandalkan tetangga. Kondisi seperti ini harus menjadi alarm bagi pemerintah. Data itu harus mengikuti kondisi masyarakat di lapangan, bukan masyarakat yang dibiarkan kesulitan hanya karena datanya belum sesuai,” ujarnya.
Ubad diketahui memilih tidur di kandang kambing lantaran rumahnya sudah dalam kondisi nyaris ambruk. Ia tidur menggunakan alas seadanya dengan karung sebagai bantal.
Sementara itu, istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu. Anak Ubad berada jauh di luar kota dan juga mengalami kesulitan ekonomi sehingga belum mampu membantu orang tuanya secara maksimal.
Sekdes Sukajaya Imas sebelumnya membenarkan bahwa Ubad merupakan warga Desa Sukajaya. Namun, namanya belum tercatat dalam desil sehingga belum memperoleh barcode bantuan sembako.
Persoalan tersebut menjadi perhatian karena kondisi Ubad di lapangan menunjukkan adanya kebutuhan yang perlu segera diverifikasi dan ditindaklanjuti melalui mekanisme pendataan yang berlaku.
Irfan juga mendorong agar persoalan serupa tidak berhenti pada administrasi semata, tetapi pemerintah memastikan warga yang membutuhkan benar-benar teridentifikasi sesuai kondisi faktual di lapangan. (dil)














Comment