Rumah Nyaris Roboh, Eti dan Empat Anak Terpaksa Menumpang Demi Bertahan Hidup

Eti (41), ibu empat anak asal Kampung Cimareme, Desa Telaga Sari, Kecamatan Sindangbarang, Cianjur, terpaksa menumpang di rumah pamannya selama sekitar satu tahun setelah rumah miliknya nyaris roboh. Di tengah keterbatasan ekonomi, Eti berharap bantuan pemerintah, dermawan, dan relawan agar rumahnya kembali layak ditempati

Wartacianjurnews.com – Sejak sekitar setahun lalu, rumah itu tak lagi menjadi tempat pulang bagi Eti (41).

Dinding dan bagian rumah yang mulai rapuh membuat perempuan yang harus menghidupi empat anak itu terpaksa meninggalkan rumahnya sendiri. Bukan karena ia ingin pergi, tetapi karena keselamatan keluarganya jauh lebih penting daripada memaksakan diri tinggal di bangunan yang nyaris roboh.

Kini, Eti dan keempat anaknya menumpang di rumah Misrani, pamannya.

Hari-hari dilalui dengan perasaan campur aduk. Ada rasa malu karena harus tinggal di rumah saudara. Ada pula kekhawatiran tentang masa depan anak-anaknya. Namun, di balik semua itu, Eti berusaha tetap tegar.

Ia memilih bekerja membantu pekerjaan rumah tangga di rumah tetangga. Upah yang diterima tidak seberapa, tetapi dari situlah kebutuhan makan sehari-hari empat anaknya berusaha dipenuhi.

Tak ada yang berlebihan dalam hidup Eti. Yang dipikirkannya setiap hari sederhana, bagaimana anak-anaknya bisa makan dan tetap memiliki tempat untuk berteduh.

Rumah miliknya di Kampung Cimareme RT 03/RW 05, Desa Telaga Sari, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, sebenarnya masih berdiri. Namun kondisinya memprihatinkan dan nyaris roboh sehingga belum memungkinkan untuk kembali ditempati.

Keinginan Eti untuk memperbaikinya sudah lama ada. Tetapi keinginan itu selalu berhadapan dengan kenyataan ekonomi yang sulit.

Terlebih, sang suami hingga kini belum kembali setelah sebelumnya berpamitan untuk bekerja.

Situasi tersebut membuat Eti harus berdiri sendiri menghadapi kehidupan bersama empat anaknya.

“Saya sebenarnya ingin memperbaiki rumah, tetapi keadaan belum memungkinkan. Saya berharap ada bantuan agar rumah tersebut bisa kembali layak ditempati,” ujar Eti kepada wartawan, Sabtu (15/8/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan harapan seorang ibu yang sudah hampir setahun kehilangan tempat tinggalnya sendiri.

Eti tidak meminta rumah mewah. Ia hanya ingin rumahnya kembali aman. Ada atap untuk melindungi anak-anaknya dari hujan, dinding yang kokoh, serta ruang sederhana untuk mereka berkumpul sebagai sebuah keluarga.

Harapan itu mendapat perhatian dari Pemerintah Desa Telaga Sari.

Kepala Desa Telaga Sari Abdul Rosid mengatakan pihak desa telah berupaya mengajukan bantuan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

Menurutnya, kondisi Eti memang membutuhkan perhatian. Pemerintah desa juga membuka ruang bagi masyarakat, dermawan maupun relawan yang ingin turun tangan membantu memperbaiki rumah tersebut.

“Kami sangat berterima kasih apabila ada dermawan atau relawan yang mau membantu warga kami. Bagaimanapun, sebagai pemerintah desa kami tentu sangat bersyukur jika ada pihak yang ikut membantu meringankan beban masyarakat,” ujarnya.

Kini, rumah yang nyaris roboh itu seolah menjadi simbol dari panjangnya perjuangan Eti.

Di satu sisi, ada bangunan yang menunggu diperbaiki. Di sisi lain, ada seorang ibu yang setiap hari berusaha mempertahankan kehidupan empat anaknya dengan segala keterbatasan.

Setahun menumpang bukanlah waktu yang singkat.

Namun Eti masih menyimpan satu harapan, suatu hari nanti, ia ingin membuka kembali pintu rumahnya sendiri, membawa keempat anaknya masuk, lalu berkata bahwa mereka akhirnya punya tempat untuk pulang.

Bagi Eti, rumah itu bukan sekadar bangunan. Rumah itu adalah harapan. (dil)

banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600 banner 1131x1600

Comment