Wartacianjurnews.com — Nama KH. R. Muhammad Nuh bin Idris mungkin tidak sepopuler putranya, KH. Abdullah bin Nuh. Namun, di balik perjalanan pendidikan Islam dan pergerakan umat di Cianjur pada awal abad ke-20, sosoknya meninggalkan jejak yang panjang.
Ulama kelahiran sekitar September 1878 itu bukan hanya dikenal sebagai pendiri Madrasah Al-I’anah Cianjur. Ia juga tercatat sebagai seorang hafiz Al-Qur’an, muqoddam Tarekat Tijaniyah, pendidik, penulis kitab, tokoh Sarekat Islam hingga anggota Konstituante Republik Indonesia.
Jejak perjuangannya membentang dari lingkungan pesantren, Makkah, dunia pendidikan, pergerakan Islam, hingga politik kebangsaan.
Menimba Ilmu di Makkah
KH. R. Muhammad Nuh bin Idris merupakan bagian dari jaringan ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Makkah pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Dalam catatan Moeflich Hasbullah yang dikutip Tatang Hidayat, Muhammad Nuh berada dalam satu generasi keilmuan dengan sejumlah ulama besar Nusantara, antara lain KH. Abdul Halim dari Majalengka dan KH. Ahmad Sanusi dari Sukabumi.
Jaringan keilmuannya juga terhubung dengan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Ia disebut sebagai junior seperguruan KH. Hasyim Asy’ari dan sama-sama pernah berguru kepada sejumlah ulama Makkah, di antaranya Syaikh Mukhtar Bogor, Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Sa’id Yamani Al-Makki dan Syaikh ‘Umar Hamdan Al-Mahrasi.
Jaringan tersebut kemudian mempertemukannya dengan para ulama dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Ajengan Muhammad Syatibi Gentur, Ajengan Syuja’i Kudang, Ajengan Bakri Sempur, KH. Ahmad Sanusi Gunung Puyuh, Ajengan Falak Pagentongan, Ajengan Alqo Sukamiskin, KH. Abdul Halim dan KH. Abbas Buntet.
Dari jaringan inilah Cianjur menjadi salah satu simpul penting perkembangan intelektual Islam Sunda pada paruh pertama abad ke-20.
Al-I’anah, Warisan Pendidikan yang Masih Berdiri
Salah satu warisan terbesar KH. R. Muhammad Nuh adalah Madrasah Al-I’anah.
Perguruan tersebut didirikan pada Selasa, 17 September 1912 atau 6 Syawal 1330 Hijriah. Kehadirannya menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Islam di Cianjur dan hingga kini nama Al-I’anah masih melekat kuat di tengah masyarakat.
Nama Al-I’anah disebut memiliki keterkaitan dengan kitab I’anah al-Thalibin, karya Abu Bakr Utsman bin Muhammad Syatha al-Dimyathi al-Bakri yang dikenal luas di lingkungan pesantren Nusantara.
Sebelum mendirikan Al-I’anah, KH. R. Muhammad Nuh juga telah mengembangkan pengajian yang dikenal sebagai Madrasah Kaum, yang diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan.
Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan tersebut kemudian mendapatkan badan hukum dengan nama I’anatuttolibin wal miskin, yang bermakna membantu para pelajar dan orang-orang yang tidak mampu.
Warisan tersebut menunjukkan bahwa bagi KH. R. Muhammad Nuh, pendidikan bukan sekadar tempat mentransfer ilmu agama, tetapi juga sarana membangun kehidupan sosial masyarakat.
Jejak Pertemuan dengan KH. Ahmad Dahlan
Nama Al-I’anah juga memiliki kisah menarik yang berkaitan dengan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Menurut catatan yang dikutip Tatang Hidayat dari Hamijaya, Ahmad Dahlan telah mengenal kitab I’anah al-Thalibin ketika belajar di Makkah dan berguru kepada Sayyid Abu Bakar Syatha.
Ketika Ahmad Dahlan kembali ke Tanah Air dan melakukan perjalanan dakwah hingga Cianjur sekitar 1907–1908, ia bertemu dengan KH. R. Muhammad Nuh yang merupakan sesama murid di Makkah.
Dalam pertemuan tersebut, nama Al-I’anah disebut menjadi salah satu hal yang diperbincangkan.
Hubungan keduanya tidak hanya berkaitan dengan persoalan keilmuan. KH. R. Muhammad Nuh juga disebut memberikan dorongan kepada Ahmad Dahlan untuk menikahi Nyai Siti Aisyah, putri penghulu Hooft Cianjur pada 1908.
Setahun kemudian, dari pernikahan tersebut lahir Siti Dandanah.
Di Antara Tijaniyah dan Khalidiyah
Sejarah perkembangan tarekat di Cianjur juga tidak dapat dilepaskan dari perjalanan KH. R. Muhammad Nuh.
Sebelum Tarekat Tijaniyah berkembang, Tarekat Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah lebih dahulu dikenal di Cianjur. Tarekat tersebut dibawa oleh KH. Hasan Al-Khalidi bin R.H. Muhyidin Natapraja bin Dalem Muhyidin atau Wiratanu V pada 1836.
Perkembangannya kemudian berlanjut melalui generasi berikutnya. Salah satunya adalah Mama Guru Isa yang mendirikan Madrasah Gedong Asem pada 1911.
Sementara itu, Tarekat Tijaniyah juga berkembang di wilayah Cianjur. G.P. Pijper dalam Fragmenta Islamica menyebut Syaikh Ali Al-Thayyib sebagai salah satu penyebar Tarekat Tijaniyah yang pernah bermukim di Cianjur, Bogor dan Tasikmalaya.
Dalam konteks tersebut, KH. R. Muhammad Nuh dikenal sebagai muqoddam Tarekat Tijaniyah di Cianjur.
Pendidikan, Tarekat dan Pergerakan
Posisi KH. R. Muhammad Nuh menjadi menarik karena aktivitasnya tidak berhenti pada pendidikan dan tarekat.
Ia juga terlibat dalam dinamika Sarekat Islam (SI) di Cianjur. Pada periode 1915–1919, ia disebut dipercaya sebagai advisor atau penasihat H.O.S. Tjokroaminoto.
Hubungannya dengan tokoh-tokoh Central Sarekat Islam, termasuk H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis, berlangsung pada periode sekitar 1914–1917.
Cianjur ketika itu juga menjadi salah satu daerah yang bersinggungan dengan perkembangan pergerakan Islam nasional. Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam atau NATICO I digelar di Bandung pada 17–24 Juni 1916.
Keterlibatan KH. R. Muhammad Nuh dalam dinamika tersebut membuat perjalanan hidupnya tidak hanya berada di ruang pengajian, tetapi juga bersentuhan dengan persoalan sosial dan politik umat.
Dalam perkembangan SI Afdeling B, ia bahkan disebut pernah mendapatkan tekanan dari pemerintah kolonial Belanda.
Ulama dan Penulis Kitab
Di bidang keilmuan, KH. R. Muhammad Nuh meninggalkan sejumlah karya.
Di antaranya Al-Ajwibah Asy-Syafiyah li Dzawil ‘Uqulis Salimah, yang membahas persoalan fikih Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam mazhab Syafi’i.
Ia juga menulis Risalah Al-Qiblah, yang berkaitan dengan ilmu falak atau astronomi.
Sejumlah kitab juga diajarkannya kepada para murid, seperti Tafsir Jalalain, Ihya Ulumuddin, Sabilal Muhtadin dan Bughyatul Mustarsyidin.
Penguasaan terhadap Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali bahkan menjadi bagian dari pendidikan keilmuan yang ia wariskan kepada putranya, KH. Abdullah bin Nuh.
Nasihat dan pandangan yang dinukil dari berbagai kitab juga kemudian dihimpun menjadi sebuah karya berjudul Lenyepaneun.
Dari Cianjur hingga Konstituante
Perjalanan KH. R. Muhammad Nuh tidak berhenti ketika Indonesia memasuki masa kemerdekaan.
Ia tetap terlibat dalam kehidupan politik Islam dan disebut aktif bersama Partai Masjumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).
Puncak kiprahnya di ranah politik kenegaraan terjadi ketika ia dipercaya menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia periode 1956–1959.
Dalam catatan yang dikutip Tatang Hidayat, namanya tercatat sebagai anggota Konstituante nomor 247 dengan penulisan K.R.R.H. Moh Noh Idris.
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu garis perjuangan yang konsisten: pendidikan, dakwah, pergerakan umat dan keterlibatan dalam kehidupan kebangsaan.
Menjadi Saksi Sejarah Cianjur
Lahir pada 1878 dan wafat pada 1966 membuat KH. R. Muhammad Nuh hidup melewati berbagai perubahan besar.
Ketika gempa Cianjur terjadi pada 28 Maret 1879, usianya baru sekitar tujuh bulan. Dalam peristiwa tersebut, ayahnya, R.H. Idris bin R.H. Muhyi, disebut meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan di Masjid Agung Cianjur.
Ia kemudian tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki hubungan dengan garis keturunan para bupati Cianjur.
Dalam perjalanan hidupnya, ia menyaksikan berbagai peristiwa penting, mulai dari Geger Cianjur 1885, perkembangan pers melalui Soenda Berita, tumbuhnya Sarekat Islam, Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam pada 1916, hingga perkembangan gerakan Khilafah yang salah satunya tercatat melalui rapat umum di Cianjur pada 30 November 1924.
Pada masa berikutnya, putranya, KH. Abdullah bin Nuh, juga dikenal sebagai ulama dan intelektual yang meneruskan tradisi keilmuan keluarga tersebut. Salah satu jejaknya adalah penerbitan majalah Al-Moemin.
Menutup Usia, Meninggalkan Warisan

KH. R. Muhammad Nuh bin Idris wafat pada Ahad malam Senin, 21 Maret 1966 atau 29 Dzulqa’dah 1385 Hijriah.
Lebih dari setengah abad setelah kepergiannya, nama dan perjuangannya masih dapat ditelusuri melalui lembaga pendidikan yang dirintisnya, karya-karya keilmuan, jaringan ulama, serta jejak keterlibatannya dalam pergerakan Islam dan kehidupan politik Indonesia.
Al-I’anah menjadi salah satu peninggalan yang paling mudah dilihat. Namun warisan KH. R. Muhammad Nuh sesungguhnya jauh lebih luas: sebuah tradisi pendidikan dan perjuangan yang menghubungkan pesantren, Makkah, tarekat, pergerakan Islam, pendidikan dan politik kebangsaan.
Di tengah deretan nama ulama besar Nusantara yang telah banyak ditulis, perjalanan KH. R. Muhammad Nuh menjadi pengingat bahwa sejarah Cianjur juga dibangun oleh tokoh-tokoh yang bekerja dalam senyap, tetapi meninggalkan jejak panjang bagi generasi setelahnya. (Ben)














Comment