Wartacianjurnews.com – Kesedihan mendalam dirasakan Mak Engkik, salah seorang warga Kampung Ciseureuh, Desa Batulawang, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur. Perempuan yang hidup sebatang kara itu kini menghadapi ketidakpastian setelah kampung tempat tinggalnya selama puluhan tahun terancam digusur.
Dengan mata berkaca-kaca, Mak Engkik mengaku berat meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Terlebih, dirinya hidup seorang diri dan tidak memiliki tempat tinggal lain untuk dituju.
“Saya sedih kalau harus pergi dari sini. Saya sudah lama tinggal di sini, mau tinggal di mana lagi kalau rumah ini harus dibongkar? Saya hidup sendirian, tidak punya tempat lain untuk tinggal,” ujar Mak Engkik dengan nada sedih, Senin (11/8/2026).
Bagi Mak Engkik, rumah tersebut bukan sekadar bangunan. Kampung Ciseureuh telah menjadi bagian dari kehidupannya. Di tempat itulah ia menjalani hari-harinya selama bertahun-tahun.
Ancaman penggusuran membuat dirinya diliputi rasa takut. Ia hanya berharap ada perhatian dan solusi dari pemerintah agar warga yang tidak memiliki tempat tinggal tidak terlantar.
Kisah Mak Engkik menjadi salah satu potret keresahan warga Kampung Ciseureuh. Warga menyebut permukiman mereka akan dikembangkan menjadi kawasan agrowisata oleh pihak perusahaan.
Sejumlah warga mengaku telah menerima uang kompensasi dengan nilai berbeda-beda, mulai dari Rp5 juta hingga Rp25 juta. Namun, nilai tersebut dinilai tidak cukup untuk membangun tempat tinggal baru, terutama bagi warga yang tidak memiliki lahan atau rumah lain.
Sebelumnya, warga juga mengungkapkan adanya batas waktu untuk mengosongkan rumah. Kondisi tersebut membuat warga semakin khawatir akan kehilangan tempat tinggal.
Warga berharap pemerintah turun tangan dan tidak membiarkan masyarakat, termasuk warga lanjut usia yang hidup seorang diri seperti Mak Engkik, kehilangan tempat tinggal tanpa solusi yang jelas.
Mereka meminta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang langsung ke Kampung Ciseureuh untuk melihat kondisi warga serta mencari jalan keluar yang adil bagi masyarakat.
Bagi Mak Engkik, persoalan ini bukan hanya tentang penggusuran sebuah rumah, tetapi tentang kehilangan tempat yang selama ini ia sebut sebagai kampung halaman.
“Saya tidak mau pergi dari sini. Di sini kampung saya, di sini tempat saya tinggal,” ucap Mak Engkik. (dil)













Comment