Wartacianjurnews.com — Turnamen sepak bola antardesa di Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, yang digelar untuk memenuhi keinginan warga dan kepala desa, justru berakhir ricuh pada laga final.
Turnamen yang diberi nama Camat Cup tersebut awalnya dirancang sebagai wadah silaturahmi masyarakat sekaligus ajang mencari bibit unggul sepak bola dari sembilan desa di Kecamatan Pasirkuda.
Camat Pasirkuda Muhamad Irfan mengatakan, gagasan menggelar turnamen sepak bola antardesa muncul dari aspirasi masyarakat dan para kepala desa yang ditemuinya setelah dirinya mulai menjabat sebagai camat pada 14 Mei 2025.
Selama sekitar satu bulan pertama menjabat, Irfan mengaku melakukan blusukan ke sembilan desa di wilayah Kecamatan Pasirkuda. Selain menyerap berbagai persoalan pelayanan masyarakat, ia juga mendengar keinginan warga agar digelar kompetisi sepak bola antardesa.
“Selain pelayanan kepada masyarakat, ada salah satu keinginan warga dan para kepala desa yang belum terwujud, yaitu turnamen sepak bola antardesa,” ujar Irfan, Sabtu (3/10/2026)
Namun, keinginan tersebut tidak langsung direalisasikan. Menurut Irfan, diperlukan berbagai pertimbangan dan koordinasi selama sekitar satu tahun agar turnamen dapat terlaksana dengan aman dan kondusif.
Ia kemudian mengumpulkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari kepala desa, organisasi kemasyarakatan, KNPI, tokoh pemuda hingga tokoh masyarakat. Pertemuan juga melibatkan unsur TNI-Polri dan Forkopimcam.
Berbagai pertemuan dilakukan lebih dari satu kali untuk membahas konsep serta pengamanan turnamen. Hingga akhirnya terbentuk kepengurusan Camat Cup yang melibatkan kepala desa, organisasi kemasyarakatan, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat.
“Rapat dilakukan beberapa kali dengan banyak pertimbangan agar pelaksanaan Camat Cup bisa berjalan kondusif,” katanya.
Turnamen kemudian disepakati digelar bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Jadi Kecamatan Pasirkuda ke-18. Kompetisi resmi dimulai pada 4 September 2026.
Babak penyisihan hingga perempat final dilaksanakan di Lapangan Desa Kalibaru. Sementara pertandingan semifinal hingga grand final dipindahkan ke Lapangan Adimukti, Desa Pusakajaya, Kecamatan Pasirkuda.
Turnamen tersebut diharapkan menjadi ruang silaturahmi antarmasyarakat dari sembilan desa sekaligus menjadi wadah bagi para pemain muda untuk menunjukkan kemampuan mereka di bidang sepak bola.
Namun, harapan tersebut harus berakhir dengan insiden kericuhan pada laga puncak.
Final yang mempertemukan Desa Simpang dan Desa Kalibaru pada Kamis (1/10/2026) diwarnai keributan antarsuporter. Pertandingan akhirnya dihentikan ketika masih menyisakan sekitar 19 menit.
Kericuhan kemudian meluas hingga ke luar lapangan dan berujung bentrokan antarkelompok suporter. Dalam upaya meredam bentrokan, Camat Pasirkuda Muhamad Irfan bahkan turut menjadi korban setelah terkena lemparan batu dan mengalami cedera pada bagian kaki.
Irfan mengatakan, dirinya menyayangkan insiden tersebut karena Camat Cup sejak awal dibangun dari keinginan masyarakat dan dirancang sebagai sarana mempererat hubungan antardesa.
“Harapannya tentu turnamen ini menjadi ajang silaturahmi dan mencari bibit unggul sepak bola. Sangat disayangkan kalau akhirnya terjadi keributan seperti ini,” ujar Irfan.
Pasca-kericuhan, aparat gabungan TNI-Polri melakukan pengamanan dan patroli di sejumlah titik wilayah Kecamatan Pasirkuda untuk memastikan situasi kembali kondusif. (dil)














Comment