Wartacianjurnews.com – Fenomena bugel kembali terjadi di muara Sungai Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Kondisi tersebut terjadi akibat debit air sungai yang mengecil dampak musim kemarau, sehingga pasir pantai terdorong ombak dan menutup saluran menuju muara.
Penutupan aliran tersebut dikhawatirkan menyebabkan air sungai meluap dan menggenangi areal pertanian milik warga. Untuk mengantisipasi hal itu, masyarakat, melakukan kerja bakti dengan menggali pasir pantai dan membuat parit sebagai jalur aliran air menuju laut.
Camat Cidaun, Gagan Rusganda, mengatakan fenomena bugel kembali terjadi karena kondisi debit sungai yang kecil selama musim kemarau. Pasir pantai kemudian terdorong gelombang hingga menutup aliran sungai.
“Karena air sungainya kecil akibat kemarau, kemudian pasir pantai terdorong ombak dan menutup saluran air. Untuk mengantisipasi air menggenangi areal pertanian, warga melakukan kerja bakti dengan menggali pasir dan membuat parit agar aliran air kembali lancar,” ujar Gagan, Selasa (6/10/2026)
Namun, saat warga melakukan kerja bakti, mereka justru menemukan bangkai seekor paus yang berada di sekitar kawasan muara.
Bangkai paus tersebut diketahui sudah dalam kondisi mulai membusuk. Diduga, paus itu mati setelah terdampar di kawasan pantai dan telah berada di lokasi tersebut cukup lama sebelum akhirnya ditemukan warga.
Temuan tersebut menjadi perhatian warga karena lokasi bangkai berada tidak jauh dari kawasan muara yang tengah dilakukan penanganan akibat tertutup pasir.
Gagan mengatakan, berdasarkan kondisi bangkai, paus tersebut diduga telah lama mati dan terdampar di kawasan pantai.
“Ketika warga sedang kerja bakti menggali pasir, ditemukan bangkai paus yang sudah mulai membusuk. Diduga paus tersebut mati karena terdampar dan kejadiannya sudah cukup lama,” katanya.
Sementara itu, warga terus melakukan upaya membuka kembali aliran air di muara untuk mencegah terjadinya genangan, terutama pada areal pertanian di sekitar Sungai Cidamar.
Fenomena bugel sendiri merupakan kondisi ketika muara sungai tertutup material pasir akibat dorongan gelombang laut, terutama saat debit air sungai kecil pada musim kemarau. Kondisi tersebut dapat menyebabkan air sungai tertahan dan berpotensi menggenangi lahan di sekitar muara. (dil)














Comment