Upah yang Tertahan di Balik Tembok Irigasi Ciherang.

Di dasar galian tanah merah Desa Cibanggala, dan Sukabungah para pekerja menyusun batu demi kokohnya Irigasi Ciherang 1 dan 2. Di balik setiap susunan batu dan adukan semen, ada peluh yang belum terbayar dan harapan yang masih tertahan.

Oleh Fadilah Munajat / Wartacianjurnews.com.

Di antara bebatuan besar yang disusun satu per satu di dasar saluran irigasi, Wawan (35) pernah menaruh harapan. Tangannya yang kasar oleh adukan semen dan tanah liat menjadi saksi betapa ia bekerja tanpa banyak keluh, demi satu tujuan sederhana, membawa pulang upah untuk keluarganya.

Pembangunan Irigasi Ciherang 1 dan 2 di Desa Cibanggala, dan Sukabungah, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, yang disebut-sebut menelan anggaran sekitar Rp10 miliar, awalnya menjadi kabar baik bagi warga sekitar. Proyek yang diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan itu membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal, termasuk Wawan.

Dengan semangat para pekerja menyusun batu kali di dalam galian saluran yang sempit dan curam. Tanah merah yang rawan longsor mengapit kanan-kiri, sementara tali bentang menjadi penanda lurusnya pasangan batu. Di sanalah Wawan menghabiskan hari-harinya, membungkuk, mengangkat batu, mencampur adukan, memastikan susunan kokoh menopang aliran air.

Ia bekerja sebagai tukang. Tak sendiri, Wawan juga mengajak sejumlah rekannya untuk ikut mencari nafkah di proyek tersebut. Baginya, semakin banyak yang bekerja, semakin banyak pula dapur yang bisa tetap mengepul.

Namun harapan itu perlahan berubah menjadi beban.
Upah yang dijanjikan tak kunjung dibayarkan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sementara kebutuhan hidup tak bisa menunggu. Lebih berat lagi, teman-teman yang ia ajak bekerja mulai menagih hak mereka.
Wawan berada di posisi sulit, di antara tanggung jawab moral kepada rekan-rekannya dan ketidakjelasan pembayaran dari pihak proyek.

Di dasar galian tanah merah Desa Cibanggala, dan Sukabungah para pekerja menyusun batu demi kokohnya Irigasi Ciherang 1 dan 2. Di balik setiap susunan batu dan adukan semen, ada peluh yang belum terbayar dan harapan yang masih tertahan.

Total kerugian yang ia tanggung disebut mencapai sekitar Rp40 juta, mencakup upah dirinya dan rekan-rekannya. Angka yang bagi sebagian orang mungkin biasa, namun bagi seorang tukang di pelosok Campakamulya, itu adalah jumlah yang sangat besar, setara dengan tabungan bertahun-tahun, bahkan bisa menjadi penopang hidup satu keluarga dalam waktu lama.

Tekanan itu perlahan menggerogoti kesehatannya. Wawan kini dikabarkan dalam kondisi sakit akibat stres berkepanjangan. Ia bukan hanya memikirkan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga rasa tidak enak hati kepada teman-temannya yang mempercayainya.

Di balik dinding batu irigasi yang berdiri, ada cerita tentang peluh yang belum terbayar. Tentang seorang tukang yang hanya ingin dihargai atas kerja kerasnya. Tentang harapan yang tersangkut di antara celah batu dan adukan semen.

Proyek irigasi mungkin akan selesai. Air mungkin akan mengalir lancar ke sawah-sawah warga. Namun bagi Wawan, aliran yang paling ia tunggu bukanlah air, melainkan haknya yang hingga kini belum juga sampai. (**)

Comment