Saat Waktu Mundur, Reuni 29 Tahun yang Menghidupkan Kenangan Masa SMP

Ratusan tawa kembali menyatu dalam satu bingkai. Reuni alumni SMPN 2 Cianjur ini menjadi saksi, meski 29 tahun terpisah waktu, kehangatan persahabatan tetap terasa seperti dulu, sederhana, tulus, dan tak pernah menua.

Oleh Fadilah Munajat

Wartacianjurnews.com – Tawa pecah begitu satu per satu wajah lama kembali saling menyapa. Senin pagi, 23 Maret 2026, suasana sebuah kafe di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Cianjur, terasa hangat dan penuh nostalgia. Puluhan alumni SMPN 2 Cianjur angkatan 1997 berkumpul setelah hampir 29 tahun tak berjumpa.

Waktu seolah mundur. Meski rambut sebagian telah memutih dan gurat usia tampak di wajah, canda yang mengalir terasa sama seperti saat mereka masih berseragam putih biru. Panggilan-panggilan khas masa sekolah kembali terdengar, diselingi tawa lepas yang mengisi setiap sudut ruangan.

Beberapa terlihat saling berpelukan erat, seakan menebus rindu yang tertunda puluhan tahun. Ada pula yang saling menatap sejenak, mencoba memastikan, apakah benar itu teman sebangku yang dulu sering berbagi cerita, atau kawan yang dulu jahil di kelas.

“Masih ingat nggak waktu kita bolos bareng?” celetuk salah satu alumni, disambut gelak tawa yang langsung pecah. Obrolan demi obrolan mengalir ringan, dari kenangan guru, kisah cinta monyet, hingga cerita hidup masing-masing yang kini telah membawa mereka ke jalan berbeda.

Acara yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB itu berlangsung santai namun penuh makna hingga menjelang siang. Meja-meja dipenuhi hidangan, tetapi yang lebih ‘mengenyangkan’ adalah cerita dan kenangan yang kembali dihidupkan.

Ratusan tawa kembali menyatu dalam satu bingkai. Reuni alumni SMPN 2 Cianjur ini menjadi saksi, meski 29 tahun terpisah waktu, kehangatan persahabatan tetap terasa seperti dulu, sederhana, tulus, dan tak pernah menua.

Ketua panitia reuni, Helmi, mengaku bersyukur acara tersebut akhirnya bisa terlaksana. Ia menyebut reuni ini bukan sekadar temu kangen, melainkan upaya merajut kembali silaturahmi yang sempat terputus oleh waktu.

“Alhamdulillah, setelah 29 tahun kita bisa dipertemukan lagi dalam suasana yang hangat seperti ini. Banyak yang datang dari berbagai daerah, menyempatkan waktu di tengah kesibukan masing-masing,” ujar Helmi.

Menurutnya, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa persahabatan di masa sekolah memiliki tempat istimewa yang tidak tergantikan.

“Walaupun sekarang kita sudah punya kehidupan masing-masing, keluarga, pekerjaan, tapi saat bertemu tadi, rasanya seperti kembali jadi anak SMP lagi. Tidak ada sekat, semua lebur jadi satu,” tambahnya.

Menjelang pukul 12.00 WIB, kebersamaan itu terasa begitu cepat berlalu. Namun sebelum berpisah, mereka mengabadikan momen dalam foto bersama, senyum merekah, mata berbinar, menyimpan janji untuk tidak kembali hilang ditelan waktu.

Di kafe sederhana itu, pagi hingga siang bukan sekadar rentang waktu. Ia menjadi saksi bahwa persahabatan, sejauh apa pun terpisah, selalu punya cara untuk menemukan jalannya pulang. (**)

Comment