Wartacianjurnews.com – Gelombang polemik tengah mengguncang tubuh Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Mukti Kabupaten Cianjur. Dugaan penyimpangan dana hibah proyek jaringan air bersih untuk Perumahan Subsidi Pataruman Pakuon, Kecamatan Pacet, kini menjadi sorotan publik dan menyeret nama jajaran direksi.
Kasus yang menyeruak dari proyek senilai Rp 3,2 miliar tersebut dituding sarat aroma korupsi dan manipulasi data. Dana hibah yang diperuntukkan bagi pemasangan jaringan air, pekerjaan pengurugan, dan sambungan rumah (SR) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu dilaporkan telah cair — namun fakta di lapangan proyek justru mangkrak.
“Bukan hanya lalai, tapi kuat dugaan ada permainan anggaran dan penciptaan item fiktif. Dana miliaran rupiah seolah menguap tanpa hasil nyata. Rakyat kecil kembali jadi korban,” tegas Buana Faghfirly, Kabid OK Sapma PP Jawa Barat, dalam keterangannya.
Ia menambahkan, pihaknya bersama elemen masyarakat akan turun ke jalan jika tidak ada transparansi dan langkah tegas dari pemerintah daerah.
“Bupati Cianjur harus segera mencopot dan mengganti direksi yang terindikasi terlibat,” ujarnya lantang.

Dirut PDAM Mendadak Mundur, Ada Apa?
Di tengah sorotan tajam terhadap proyek hibah itu, publik dikejutkan dengan pengunduran diri Direktur Utama PDAM Tirta Mukti, Budi Karyawan.
Langkahnya dinilai janggal dan menimbulkan spekulasi liar, mengingat posisi tersebut disebut-sebut erat kaitannya dengan dinamika politik pasca Pilkada Cianjur 2024.
Sumber internal PDAM Tirta Mukti mengungkapkan bahwa kondisi keuangan perusahaan tidak sedang baik-baik saja. Bahkan, Inspektorat Daerah disebut telah melakukan pemeriksaan terhadap dugaan penyimpangan pengelolaan anggaran.
“Iya, isu keuangan memang memprihatinkan. Sekarang sedang diperiksa Inspektorat,” ujar sumber yang enggan disebut namanya, dikutip dari ayobandung.com (31/10/2025).
Selain itu, keluhan masyarakat terhadap pelayanan PDAM juga meningkat. Banyak pelanggan mengeluh kenaikan tarif air dua hingga tiga kali lipat tanpa adanya peningkatan pemakaian, sementara aliran air kerap tersendat.
“Aneh, pemakaian sama tapi tagihan melonjak. Air pun sering mati,” keluh warga pelanggan PDAM di wilayah perkotaan.

Jawaban Dirut Lama: “Bukan Karena Tekanan Politik”
Menanggapi isu yang menimpa dirinya, Budi Karyawan membantah keras jika pengunduran dirinya dipicu tekanan politik atau intervensi pihak tertentu.
“Saya mundur karena faktor kesehatan dan sudah hampir 40 tahun bekerja. Saatnya regenerasi,” katanya.
Namun, publik menilai alasan itu terlalu klise. Sebagian pihak meyakini pengunduran diri tersebut erat kaitannya dengan pemeriksaan dana hibah dan gonjang-ganjing internal PDAM Tirta Mukti.
Dengan dua fakta besar ini — proyek hibah bermasalah dan mundurnya Dirut di tengah isu keuangan — PDAM Tirta Mukti kini berada di persimpangan serius.
Masyarakat menuntut Bupati Cianjur turun tangan, membuka audit publik, dan menindak pihak-pihak yang terbukti bermain dengan uang rakyat. (Ben)













Comment