Wartacianjurnews.com – Murid SD Negeri Cisaat, sisihkan sebagian uang jajan mereka untuk membantu Ridwan Ardiansyah (11), siswa kelas 5 yang menderita infeksi THT.
Aksi solidaritas sesama siswa yang dilakukan, bukanlah pertama kalinya, namun semenjak Ridwan anak pertama dari pasangan Muhamad Yusuf (34) dengan Sri Maryani (30) warga Kampung Peundeuy Raweuy RT.01/07 Desa Girimukti Kecamatan Campaka tersebut, pernah dilakukan para siswa, sepulang menjalani operasi di Rumah Sakit Bunut Sukabumi sebulan silam.
Kepala SD Negeri Cisaat Siti Maemunah mengatakan, Ridwan merupakan salah satu siswa di SD Negeri Cisaat yang sudah selama dua bulan tidak mengikuti pembelajaran di sekolah karena penyakit yang dideritanya.
“Semenjak awal semester kedua di bulan januari ridwan sakit, kami para guru dan juga siswa sudah menjenguknya, hari ini yang kedua kalinya,” kata Siti kepada Wartacianjurnews.com, Sabtu (02/03/2024).
Teman teman ridwan, Lanjut Siti, sangat peduli, mereka dengan sukarela menyisihkan uang jajan mereka untuk ridwan, walau hasilnya tidak seberapa, tapi itu sebagai bentuk rasa kepedulian sesama siswa,” ujarnya.
Sementara itu menurut keterangan dari pihak keluarga, Ridwan menderita infeksi THT.
“Waktu pertama diperiksa dokter di rumah sakit bunut sukabumi, dokter bilang ridwan menderita infeksi THT,” terang Yusuf bapak kandung Ridwan.
Ridwan pun sempat menjalani operasi di bagian leher akibat infeksi cukup parah yang dideritanya.
“Bagian leher ridwan bolong, serta bagian dadanya melepuh seperti habis terbakar dan kulitnyapun mengelupas,” ungkap Yusuf.
Karena keterbatasan biaya, Ridwan kini dirawat di rumah, dan setiap hari ridwan harus mengganti kain kasa (perban) ke sebuah klinik di wilayah Kecamatan Cilaku.
“Setiap hari saya harus bawa ridwan ke klinik untuk ganti kain kasa, padahal jaraknya cukup jauh, dan jalannya pun terjal untuk sampai ke jalan desa,” kata Yusuf.
Yusuf berharap, adanya bantuan dari pemerintah untuk dapat memenuhi biaya perawatan ridwan.
“Saya harap, ada solusi, dengan adanya petugas kesehatan yang bisa datang ke rumah, karena setiap hari luka di leher bekas operasinya selalu kembali berdarah akibat perjalanan ke klinik, jadi gak kering-kering,” ucap Yusuf.
Kini Ridwan hanya bisa terbaring lemas, di sebuah rumah sederhana di lereng bukit, menunggu kesembuhan penyakit yang dideritanya namun terkendala biaya.
Taufik winata














Comment