Miris Dua Tunanetra Muadzin Tinggal di Rutilahu

Wartacianjurnews.com – Menempati sebuah rumah panggung yang sudah lapuk, tanpa kaca jendela berukuran 4X6 meter persegi, Jaenudin (77) bersama Yati (58), berjuang selama puluhan tahun membesarkan 2 anak laki laki penderita tunanetra, dan 4 anak perempuan.

Adalah Muhamad (19), dan Dede (17), tinggal bersama kedua orangtuanya di Kampung Pasir Peundeuy RT.01/07, Desa Girimukti, Kecamatan Campaka, tidak pernah mengenyam bangku sekolah, karena mengalami gangguan penglihatan sejak lahir.

Namun, kedua anak pasangan lansia, yang hanya seorang pemelihara domba punya orang lain, dan buruh tani tersebut, memiliki kelebihan dalam menghitung, dan menghafal sejumlah surat dalam Al-Qur’an.

“Kedua anak saya tidak dapat melihat sejak lahir, walaupun dia tidak sekolah namun alhamdulillah, dia pintar dalam menghitung dan menghafal surat alquran,” kata Yati kepada Wartacianjurnews.com, Minggu (17/03/2024).

Menurutnya, Ujang panggilan akrab Muhamad menjadi seorang Muadzin di Mushola terdekat dan aktif di setiap pengajian.

“Kalau ujang jadi tukang adzan di mushola dan aktif di pengajian seperti marhaba, dan lainnya, yang satunya Dede sekarang mengaji di pondok pesantren di daerah rancagoong, juga sama pintar menghitung dan hafalan surat alquran,” ujar Yati.

Kepintaran kedua anak laki lakinya tersebut, didapatkan secara autodidak.

“Alhamdulillah, keduanya cepat menangkap apa yang temannya ceritakan dan ajarkan,” ucap Yati.

Hasil pantauan di lokasi, sebagian dinding rumah keluarga Jaenudin yang terbuat dari bilik bambu, sudah terlihat bolong dan atap genteng pun bocor, hanya ada dua buah gantungan lampu listrik untuk penerangan di dalam rumah.

“Ini lampu kalau siang dimatikan, hanya malam saja, inipun saya minta sambungan ke tetangga dengan membayar 20 ribu perbulannya,” ujarnya.

Yati mengaku, belum ada dari pihak manapun yang membantu memperbaiki rumahnya, yang dia klaim sebagai warisan turun temurun dari kakek buyutnya.

“Ini rumah dari warisan kakek yang usianya lebih dari 50 tahun, jadi kondisinya sudah sangat lapuk,” ujar Yati.

Menurut pengakuannya, dia bersama suaminya tidak mampu untuk memperbaiki rumahnya yang semakin reyod.

“Jangankan untuk perbaiki rumah, untuk makan sehari hari saja susah, kadang dapat dari kuli kadang gak puanya uang sama sekali,” akunya.

Di tahun 2023, Lanjut Yati, keluarganya masih mendapatkan bantuan BLT DD dari Desa Girimukti, namun memasuki tahun 2024 sudah tidak mendapatkannya lagi.

“Baru kemarin mendapat bantuan beras selama dua bulan,” terang Dia

Itupun untuk mengambil beras bantuan, Yati harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer untuk sampai di kantor Desa Girimukti.

Taufik Winata

Comment