Wartacianjurnews.com – Air sungai mengalir deras di tepian Desa Sukamulya, Kecamatan Naringgul. Suaranya menghantam bebatuan, memantul ke dinding tebing, menghadirkan bunyi alam yang sekaligus menjadi penghalang terbesar warga untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Tak ada jembatan di desa ini. Untuk menuju Puskesmas, satu-satunya jalan hanyalah menyeberangi sungai. Tapi itu pun penuh syarat, warga harus menunggu air surut. Jika air sedang besar, tak ada yang berani mengambil risiko menyeberang.
“Kalau hujan turun semalaman, air bisa meluap sampai ke atas dada orang dewasa. Warga hanya bisa menunggu. Kalau darurat, ya, repot sekali,” tutur Cep Eli Suandi, Kepala Desa Sukamulya, dengan wajah penuh prihatin.
Cerita paling menyayat hati terjadi beberapa waktu lalu. Seorang ibu hamil yang hendak melahirkan tak kunjung bisa menyeberang karena sungai masih deras. Ambulans jelas mustahil menjangkau. Warga hanya bisa menunggu sambil cemas. Hingga akhirnya, sang ibu melahirkan di pinggir sungai, beralaskan kain seadanya, ditemani tetangga dan keluarga.
“Bayangkan, nyawa ibu dan bayi itu dipertaruhkan hanya karena tidak ada jembatan,” lanjut Cep Eli dengan suara berat.

Bagi warga Sukamulya, sungai bukan sekadar bentang alam, ia adalah garis batas antara hidup dan mati. Setiap kali ada keluarga yang sakit, dilema yang sama terulang, menunggu surut dengan harapan, atau melawan arus dengan taruhan nyawa.
Sementara itu, anak-anak desa masih berlarian di tepian sungai, seakan tak menghiraukan bahaya. Namun para orang tua tahu, di balik suara gemericik air itu, ada ketidakpastian yang selalu membayangi, apakah mereka bisa selamat sampai ke Puskesmas atau justru terjebak di seberang. (Fadilah Munajat)













Comment