Melahirkan di Ambulans, Jalan Rusak Jadi Saksi Perjuangan Seorang Ibu di Sukajembar

Ambulans desa dengan lampu sirine menyala di tengah gelapnya malam, saat mengantar seorang ibu yang akhirnya melahirkan di perjalanan akibat akses jalan rusak di perbatasan Sukajembar–Gunungsari, Kampung Pasir Ipis.

Oleh Fadilah Munajat/ Wartacianjurnews.com.

Udara malam begitu dingin ketika suara tangis bayi pecah dari dalam ambulans desa. Jam menunjukkan pukul 23.30 WIB. Di tengah guncangan jalan berbatu dan berlubang, Mia Agustina (26), seorang ibu muda, melahirkan anak keduanya, seorang bayi laki-laki, tepat di perbatasan Sukajembar–Gunungsari, Kampung Pasir Ipis.

“Alhamdulillah… selamat, Bu,” ucap bidan desa sambil menggendong si kecil yang baru saja lahir, wajahnya tampak lega bercampur haru. Di sampingnya, seorang kader posyandu membantu menyiapkan kain pembungkus, sementara lampu darurat ambulans berkelip menembus gelapnya malam.

Perjalanan Mia malam itu bukan perjalanan biasa. Dari rumahnya menuju pustu hanya berjarak tiga kilometer, namun kondisi jalan rusak membuat laju kendaraan tersendat. Di pustu, riwayat darah tinggi membuat bidan memutuskan merujuknya ke Puskesmas Sukanagara. Ambulans desa pun segera melaju, ditemani suara mesin yang meraung di tanjakan dan hentakan ban menghantam jalan rusak.

Belum juga sampai puskesmas, kontraksi datang semakin kuat. Hanya setengah jam perjalanan dari pustu, di jalan sempit yang sepi, Mia akhirnya melahirkan di dalam ambulans.

Setibanya di Puskesmas Sukanagara, Mia dan bayinya langsung dirujuk kembali ke RSUD Pagelaran untuk penanganan lebih lanjut. Semua orang di dalam ambulans malam itu masih teringat jelas bagaimana jalan yang rusak ikut menjadi saksi perjuangan seorang ibu.

Ambulans desa dengan lampu sirine menyala di tengah gelapnya malam, saat mengantar seorang ibu yang akhirnya melahirkan di perjalanan akibat akses jalan rusak di perbatasan Sukajembar–Gunungsari, Kampung Pasir Ipis.

Kepala Desa Sukajembar, Dadang Romdona, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebut, peristiwa ibu melahirkan di jalan karena akses buruk ini sudah terjadi tiga kali.

“Terakhir jalan ini diperbaiki tahun 1998. Dari 7,5 kilometer, baru 3 kilometer yang diperbaiki. Padahal ini akses vital, bukan hanya untuk ibu melahirkan, tapi juga untuk sekolah, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dadang berharap pemerintah kabupaten segera turun tangan. Karena setiap detik yang hilang di jalan rusak, bisa jadi taruhan nyawa.

Malam itu, di antara jalan berbatu dan gelapnya kampung, tangis bayi yang lahir di ambulans seolah menjadi simbol, harapan baru yang hadir di tengah keterbatasan.

Comment