
Di ruang kecil beralas tikar dan doa, Aroma malam (cairan lilin) itu masih ia ingat, hangat, tajam, dan penuh harapan.
ia mulai menorehkan garis pertama dengan canting di tangan. menunduk di atas selembar kain putih, Lilin panas mengalir pelan, membentuk motif yang belum sempurna, tapi sudah sarat makna.
Setiap goresan adalah tekad, setiap titik adalah harapan, melukis bukan hanya di atas kain, tapi di atas hidupnya sendiri, mewarnai hari-hari dengan keberanian, membasuh keraguan dengan warna-warna yang kelak menjadi masa depannya. Ia bukan sekadar menggambar motif, ia sedang menulis takdir. Eliana Trisnawati, lahir 16 September 1970, adalah perempuan yang menjadikan batik sebagai bahasa perjuangan, dan jalan pemberdayaan.
Lima belas tahun lalu, perempuan itu melukis mimpi, dengan malam yang mengajarkannya sabar, canting yang mengajarkannya teliti, dan batik yang mengajarkanya bertahan.
Kini, setiap lembar batik yang keluar dari tangannya adalah cerita. Cerita tentang perempuan yang tak menyerah, tentang budaya yang tak pudar, dan tentang usaha yang tumbuh dari cinta dan keyakinan.
Adalah Eliana Trisnawati dari sebuah pelatihan membatik pada Tahun 2010 di salah satu instansi pemerintah menjadi titik mula baginya, membuka pintu bagi mimpi yang selama ini hanya ia simpan dalam lemari batik koleksinya. Dari situ, lahirlah ‘’Dahlia Batik Genturan’’ yang bukan sekadar nama, tapi lambang keteguhan perempuan yang ingin menghidupkan warisan.
Eliana mulai merintis, menggambar pola sendiri, memilih bahan dengan mata yang jeli, dan melatih ibu-ibu sekitar agar bisa ikut menenun masa depan. Dan Dari ruang kerja yang sederhana menjelma menjadi Workshop yang produktif, beralamat Jl. Raya Cianjur – Sukabumi No. 42 Cikaroya – Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Usaha kecil itu tumbuh Dari menyediakan batik tulis dan cap, membuka pelatihan membatik, dan ia beradaptasi dengan teknologi: menambahkan teknik *sublime* dan ‘’printing’’ agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Kini, Dahlia Batik Genturan menerima pesanan seragam sekolah, kantor, keluarga, hingga komunitas. Batiknya tampil di pameran kabupaten, provinsi, bahkan nasional dan internasional. Dari Cianjur ke Jakarta, dari Bandung ke Myanamar, batik Eliana membawa aroma kampung halaman dan semangat perempuan yang tak pernah menyerah.
Kini, setelah 15 tahun, Eliana masih menunduk di atas kain. Tapi di sekelilingnya, puluhan perempuan telah bangkit. Mereka bukan hanya pekerja, tapi pewaris. Mereka bukan hanya melukis, tapi membangun. Dan Eliana, dengan senyumnya yang tenang, tahu bahwa batik bukan sekadar usaha—ia adalah cara perempuan menyapa dunia dengan keindahan, ketekunan, dan cinta.(*Ih)













Comment