Wartacianjurnews.com – Keputusan DPP Partai NasDem menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Fraksi DPR RI menuai sorotan tajam. Alih-alih dianggap tegas, langkah itu dinilai hanya setengah hati dan lebih condong pada penyelamatan citra partai.
Adi Supriadi, pengamat dari Aliansi Masyarakat Sipil Cianjur, menegaskan bahwa status “dinonaktifkan” justru membuka peluang kedua kader tersebut bisa kembali aktif di kemudian hari.

“Kalau hanya dinonaktifkan, artinya masih ada kemungkinan bisa kembali. Itu bukan sanksi tegas. Harusnya langsung dipecat, atau kalau mereka punya harga diri sebagai wakil rakyat, sebaiknya mundur. Itu jauh lebih terhormat,” ujar Adi, Minggu (31/8/2025).
Ia menilai langkah NasDem lebih mirip strategi panik untuk meredam amarah publik ketimbang bukti keberpihakan pada rakyat.
“Ini jelas hanya cara menyelamatkan citra partai. Rakyat sedang marah, lalu dua orang dikorbankan untuk meredakan situasi. Padahal masalahnya jauh lebih besar: kegagalan partai-partai di parlemen menjadi wakil rakyat sejati,” tegasnya.
Adi juga mengingatkan bahwa rakyat sudah terlalu sering dipermainkan oleh janji busuk lima tahunan. “Rakyat membayar pajak, tapi balasannya cuma omongan kosong dan drama politik. Yang rakyat butuhkan adalah kerja nyata, bukan sekadar gimmick pemecatan atau nonaktif yang bisa dicabut kapan saja,” pungkasnya.
Pernyataan Adi mempertegas bahwa langkah NasDem dinilai belum cukup. Pertanyaan publik kini semakin keras: apakah partai ini benar-benar berani menegakkan disiplin kader, atau sekadar bermain di panggung sandiwara politik? (Ben)













Comment