Ironi di Balik Aplikasi Harga Perempuan di Gekbrong Lebih Murah dari Kambing

Ilustrasi

Wartacianjurnews.com – Di tengah geliat modernisasi dan kemajuan teknologi digital, sebuah kenyataan pahit tersingkap di Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Hasil penelusuran dari aplikasi “hijau” istilah yang digunakan untuk menyamarkan platform pemesanan pekerja seks komersial (PSK) mengungkapkan bahwa tarif perempuan hanya dihargai Rp200 ribuan. Ironisnya, harga ini bahkan lebih murah dibanding seekor kambing di pasar hewan.

Ilustrasi

Laporan Fadilah Munajat.

Seorang PSK berinisial Mawar (bukan nama sebenarnya), bersedia berbagi kisahnya kepada kami. Wanita 24 tahun ini mengaku sudah dua tahun melayani pelanggan melalui aplikasi tersebut. Ia menyebutkan bahwa harga dirinya ditentukan oleh persaingan dan permintaan, bukan lagi nilai kemanusiaan.

“Kalau mahal, gak laku. Rata-rata pasang tarif Rp200 ribu. Itu pun sudah termasuk tempat dan biaya aplikasi,” ungkap Mawar dengan tatapan kosong di sebuah warung kopi kecil.

Sementara itu, di pasar hewan Cianjur, harga seekor kambing jantan sehat bisa mencapai Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta tergantung usia dan kondisi. Perbandingan ini menciptakan ironi yang menyayat harga tubuh manusia, khususnya perempuan, tak lebih tinggi dari hewan ternak.

Mawar mengaku terpaksa menjalani pekerjaan itu demi menghidupi anak semata wayangnya. Sejak ditinggal suami tanpa jejak, ia tak memiliki banyak pilihan.

“Awalnya malu. Tapi sekarang sudah biasa. Asal anak bisa makan dan sekolah, saya rela,” katanya pelan.

Fenomena ini membuka ruang perbincangan luas tentang kemiskinan, ketimpangan ekonomi, serta lemahnya sistem perlindungan terhadap perempuan di daerah pinggiran. Selain itu, minimnya pengawasan terhadap aplikasi digital berkontribusi besar dalam menjamurnya praktik prostitusi terselubung.

Pegiat sosial lokal, Yanti Rahmawati, menyebut fenomena ini sebagai “alarm bahaya” yang harus segera ditindak.

“Kita bicara tentang martabat manusia. Kalau harga perempuan bisa semurah itu, berarti ada sistem yang gagal, baik dari sisi ekonomi maupun perlindungan sosial,” tegasnya.

Pemerintah daerah diminta tidak hanya menindak dari sisi hukum, tapi juga menghadirkan solusi nyata berupa pelatihan keterampilan, akses pekerjaan, dan pendampingan psikologis.

Harga perempuan bukanlah angka di aplikasi. Di balik nominal itu, tersimpan cerita luka, tekanan hidup, dan sistem sosial yang abai. Dan selama nilai manusia bisa dihitung lebih rendah dari kambing, maka kita masih punya pekerjaan rumah besar sebagai masyarakat.

Comment