Wartacianjurnews.com- Ribuan petani dari 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur mengaku dirugikan oleh perusahaan fintech lending PT Crowde. Para petani yang mengikuti program pemodalan mengaku hanya meminjam dana di bawah Rp5 juta, namun tercatat memiliki utang hingga Rp45 juta di sistem perbankan.

Tak hanya itu, hasil panen yang dijanjikan akan dibeli kembali oleh perusahaan, ternyata tidak ditepati. Meski para petani sudah melakukan pembayaran cicilan, mereka belum menerima surat pelunasan, sehingga terjebak dalam status kredit bermasalah atau BI Checking yang menghalangi mereka mengakses pinjaman dari bank lain.
Asep, mantan sales marketing perusahaan tersebut mengungkapkan keresahannya.
“Sekarang banyak yang menelepon, bahkan meneror. Kami juga tidak tahu harus menjawab apa ke petani. Kami hanya karyawan yang menjalankan program,” ujarnya, Selasa 15 April 2025.
PT Crowde disebut menjalankan programnya di Cianjur melalui anak perusahaan bernama PT Suplai Jasa Cianjur (PT SJC) selama periode 2022–2023. Dalam program tersebut, para petani menanam berbagai komoditas, termasuk sayuran dan talas beneng—tanaman unggulan perusahaan yang daunnya digunakan sebagai pengganti tembakau.
Namun, kini PT SJC bak hilang ditelan bumi. Kantornya yang berlokasi di Jalan Raya Sukabumi, Rancagoong, Desa Cilaku, tidak lagi beroperasi. Tidak hanya petani, para mantan pekerjanya pun mengaku kesulitan menghubungi pihak manajemen untuk mendapatkan kejelasan.
Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari PT Crowde terkait laporan petani maupun dugaan manipulasi data pinjaman. (Br)














Comment