Make-Up Siswa Dimusnahkan di Lapangan, SMAN 1 Pacet Cianjur Ungkap Alasannya

Teks: Pemusnahan make-up hasil razia siswa SMAN 1 Pacet Cianjur.
Foto: Sejumlah perlengkapan make-up hasil razia siswa SMAN 1 Pacet, Kabupaten Cianjur, dimusnahkan pihak sekolah pada Jumat (23/10/2026).

Wartacianjurnews.com – Pemusnahan make-up hasil razia di SMAN 1 Pacet, Kabupaten Cianjur, menjadi perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial. Pihak sekolah menyebut kebijakan tersebut ditujukan untuk mendisiplinkan siswa sekaligus mencegah potensi perundungan dan pelecehan.

Video berdurasi 38 detik yang diunggah melalui akun media sosial SMAN 1 Pacet itu memperlihatkan sejumlah perlengkapan kosmetik dikumpulkan di lapangan sekolah. Guru dan perwakilan siswa kemudian memusnahkan barang-barang tersebut di hadapan para siswa yang menyaksikan kegiatan itu.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Pacet, Angga Dita Noviana, menjelaskan bahwa larangan membawa atau menggunakan make-up berlebihan telah diberlakukan sejak awal tahun ajaran baru. Menurutnya, kebijakan tersebut sudah disosialisasikan kepada siswa saat SPMB, MPLS Panca Waluya, serta dalam pertemuan bersama orangtua.

“Sudah kami sampaikan itu pada siswa saat SPMB dan MPLS Panca Waluya. Bahkan saat disampaikan pada rapat orangtua, mereka sangat menyetujui aturan tersebut,” ujar Angga, Senin (26/10/2026).

Ia mengatakan, pihak sekolah sebelumnya telah melakukan pemeriksaan dan menyita kosmetik yang dinilai berlebihan. Namun, barang sitaan biasanya dikembalikan setelah jam pelajaran berakhir atau diserahkan kepada orangtua siswa disertai edukasi agar pelanggaran tidak terulang.

“Sudah sering diingatkan dan dilakukan pembinaan, tapi tetap saja dibawa ke sekolah. Bahkan ada yang membawa satu set make-up lengkap dalam tasnya,” katanya.

Razia yang berujung pemusnahan itu dilaksanakan pada Jumat (23/10/2026) pagi, setelah rangkaian kegiatan sekolah. Angga menegaskan, tidak semua produk perawatan diri dilarang. Bedak, losion atau handbody, serta tabir surya tetap diperbolehkan dan dikembalikan kepada pemiliknya setelah pemeriksaan.

Menurut Angga, pembatasan make-up berlebihan juga berkaitan dengan upaya sekolah melindungi siswi dari risiko menjadi sasaran komentar tidak pantas atau perundungan. Pemeriksaan tas, lanjutnya, turut dilakukan terhadap siswa laki-laki untuk memastikan tidak ada barang yang dilarang dibawa ke lingkungan sekolah, termasuk rokok.

Pihak sekolah menyatakan akan tetap menjalankan kebijakan tersebut meskipun menuai beragam tanggapan di media sosial. Angga mengatakan, sekolah memahami adanya pro dan kontra, tetapi menegaskan bahwa aturan itu merupakan bagian dari upaya pembinaan dan perlindungan siswa. (Ben)

Comment