Wartacianjurnews.com – Sebanyak 32 pelajar terjaring setelah aksi tawuran yang viral di media sosial di wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Polisi mengungkap, bentrokan tersebut berawal dari janji untuk melakukan sparing yang direncanakan melalui media sosial, tetapi berujung pada keterlibatan senjata tajam.
Berdasarkan data yang dihimpun, para pelajar tersebut berasal dari sejumlah satuan pendidikan. Rinciannya, delapan orang dari SMP Negeri 1 Campaka, dua orang dari PKBM Al Kuwah Campaka, empat orang dari MTs Al Falah Campaka, tiga siswa kelas V SD di Campaka, satu alumni SMP Negeri 1 Campaka yang kini bersekolah di SMA Negeri 1 Cibeber, serta satu orang dari SMP Negeri 1 Cianjur.
Kapolsek Cibeber Kompol Tio mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) dan pihak sekolah yang siswanya terlibat dalam kejadian tersebut. Para pelajar kemudian dibawa ke Polsek Cibeber untuk penanganan lebih lanjut.
“Selanjutnya kami juga berkoordinasi semua pihak untuk melakukan pembinaan secara bersama-sama agar tidak terulang kembali di kemudian hari,” kata Tio saat ditemui di Mapolsek Cibeber, Sabtu (17/10/2026).
Tio menjelaskan, dari 32 pelajar yang terjaring, sebanyak 15 orang berasal dari wilayah kecamatan lain, sedangkan 17 orang berasal dari wilayah Cibeber. Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA hingga SMK.
Menurut Tio, para pelajar tersebut sebelumnya berencana melakukan sparing menggunakan sabuk. Namun, rencana itu berujung bentrokan setelah satu atau beberapa orang membawa senjata tajam.
“Betul, mereka janjian untuk kegiatan ini secara direncanakan melalui media sosial, dan awalnya mereka tuh hanya ingin sparing menggunakan sabuk sebenarnya, tapi ternyata di luar dugaan ada salah satu atau beberapa anak yang membawa sajam,” ujarnya.
Dalam kejadian tersebut, terdapat korban yang mengalami luka. Meski demikian, Tio menyebut luka yang dialami korban tergolong ringan dan kondisinya masih sehat.
“Betul, ada korban luka, namun lukanya kategori bisa dianggap ringan dan yang bersangkutan masih dalam keadaan sehat, alhamdulillah,” katanya.
Tio menyebut, usia para pelajar yang terlibat rata-rata berkisar antara 14 hingga 17 tahun.
Sementara itu, Camat Cibeber Ardian Athoillah, SE, mengatakan pemerintah mendorong pembinaan berkelanjutan terhadap para pelajar yang terlibat. Upaya tersebut perlu dilakukan bersama pihak sekolah dan orang tua agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Ardian menegaskan, penanganan terhadap para pelajar harus tetap memperhatikan keberlangsungan pendidikan mereka. Ia berharap insiden tersebut tidak berujung pada anak putus sekolah atau kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan.
“Jadi itu bukan solusi ya. Jadi imbauannya pembinaan berkelanjutan dan jangan sampai anak ini putus sekolah,” ujar Ardian.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan kejadian tersebut sebagai pelajaran bersama. Menurutnya, para pelajar merupakan generasi yang perlu dijaga masa depan, pendidikan, dan pembentukan akhlaknya.
“Karena ini anak-anak kita juga. Anaklah ini anak-anak kita yang harus kita pastikan masa depannya, pendidikannya, dan juga akhlaknya,” katanya.
Keterangan tersebut disampaikan saat agenda pemulangan para pelajar di Mapolsek Cibeber pada Sabtu (17/10/2026). Para pelajar dijemput oleh orang tua atau wali masing-masing. (Ben)













Comment