Hari Jadi Cianjur, Akademisi Ajak Jadikan Ngaos, Mamaos, Maenpo sebagai Roh Pembangunan

Wartacianjurnews.com – Momentum Hari Jadi Cianjur ke-349 dimanfaatkan Dosen Etika Bisnis Universitas Putra Indonesia (UNPI) Cianjur, Doddie FT, untuk mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan filosofi Ngaos, Mamaos, dan Maenpo sebagai landasan pembangunan daerah.

Menurut Doddie, ketiga nilai tersebut merupakan warisan budaya yang tidak hanya menjadi identitas masyarakat Cianjur, tetapi juga dapat menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan sosial. “Ngaos, Mamaos, dan Maenpo bukan sekadar slogan budaya. Nilai-nilai itu merupakan fondasi moral yang semestinya menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, nilai Ngaos mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan, keimanan, dan akhlak sebagai dasar kehidupan. Sementara Mamaos mencerminkan kehalusan budi, kepekaan sosial, serta kemampuan mendengar aspirasi masyarakat. “Pemerintah yang berjiwa mamaos bukanlah pemerintah yang anti kritik, melainkan pemerintah yang mampu mendengar suara masyarakat sebagai energi untuk terus memperbaiki diri,” katanya.

Doddie menambahkan, Maenpo tidak hanya dimaknai sebagai seni bela diri khas Cianjur, tetapi juga mengandung nilai pengendalian diri, keberanian, keteguhan, dan tanggung jawab dalam kepemimpinan. Ia menyebut keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan masyarakat menjadi bagian dari implementasi nilai tersebut.

Selain mengangkat filosofi daerah, Doddie juga menyoroti sejumlah tantangan pembangunan yang masih dihadapi Kabupaten Cianjur. Di antaranya peningkatan kesejahteraan masyarakat, perluasan kesempatan kerja bagi generasi muda, pengendalian alih fungsi lahan pertanian, pemerataan pembangunan, hingga pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Menurutnya, tema Hari Jadi Cianjur ke-349, “Rahayat Raksa Raharja”, perlu diwujudkan melalui kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui panjangnya jalan yang dibangun atau tingginya angka investasi. Pembangunan sejati adalah ketika masyarakat semakin cerdas, semakin sehat, semakin produktif, semakin beretika, dan memiliki harapan yang lebih baik terhadap masa depan,” tuturnya.

Ia juga mengajak pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, tokoh agama, budayawan, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam pembangunan daerah. Doddie menilai kerja sama seluruh elemen menjadi salah satu upaya menjaga nilai budaya sekaligus menghadapi tantangan perkembangan zaman. (Ben)

Comment