Wartacianjurnews.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan musim kemarau tahun 2026 dipengaruhi tren penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, akibat fenomena El Nino lokal. Kondisi ini mulai dirasakan di Kabupaten Cianjur yang kini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan.
Meski demikian, BMKG memprediksi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi secara lokal dan tidak merata. Karakteristik kemarau tahun ini juga ditandai suhu udara yang cenderung lebih dingin pada malam hari, meskipun kondisi siang tetap kering.
Dampak awal mulai terlihat di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat tujuh desa telah masuk kategori rentan kekeringan, yakni Desa Margaluyu, Hamerang, Batulawang, Pananggapan, Ciburial, Pananggapan, dan Panyindangan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cianjur, Samudra Wira Purnama, mengatakan kondisi saat ini belum masuk kategori kekeringan ekstrem, namun perlu diantisipasi sejak dini.
“Statusnya masih rentan. Ketersediaan air secara umum masih ada, tapi harus diwaspadai agar tidak berkembang menjadi krisis,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyebarkan imbauan ke seluruh kecamatan sejak Juni lalu. Masyarakat diminta menghemat penggunaan air, tidak membakar lahan maupun sampah, serta menjaga kawasan resapan air dengan tidak menebang pohon sembarangan.
BPBD juga tengah menyiapkan draf Surat Keputusan (SK) Darurat Kekeringan tingkat kabupaten, sejalan dengan penetapan status siaga kekeringan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berlaku hingga 30 September 2026.
Jika kondisi memburuk, distribusi air bersih akan dilakukan bekerja sama dengan Perumdam (PDAM) dan Dinas PUTR, termasuk kemungkinan meminta bantuan armada dari BPBD Provinsi Jawa Barat.
Berkaca pada tahun sebelumnya, pada 2024 sebanyak 14 hingga 15 kecamatan di Cianjur terdampak kekeringan. Sementara pada 2025 tidak ada laporan kekeringan. Tahun ini, meski baru satu kecamatan terdampak, potensi meluas tetap diwaspadai seiring pengaruh El Niño terhadap penurunan curah hujan.
BPBD mengimbau masyarakat tetap siaga dan aktif melakukan langkah antisipasi mandiri agar dampak kemarau tidak berkembang menjadi krisis air bersih. (dil)













Comment