Oleh Fadilah Munajat
Wartacianjurnews.com – Ada rasa rindu yang sulit dijelaskan setiap kali mengingat perjalanan ke Curug Citambur. Bukan hanya tentang tempatnya, tapi tentang waktu yang seolah berjalan lebih pelan di sana.
Perjalanan dari Kota Cianjur menuju Desa Karangjaya, Kecamatan Pasirkuda, sekitar 32 kilometer itu masih terasa hangat di ingatan. Jalan yang berliku, udara yang semakin dingin, dan pemandangan perbukitan hijau yang perlahan menggantikan hiruk pikuk kota. Di dalam perjalanan, tawa dan obrolan sederhana terasa begitu hidup, seolah kami tahu, ada sesuatu yang menunggu di ujung jalan.
Sore itu, saat pertama kali melihat air terjun setinggi 130 meter itu, semuanya seperti diam sejenak. Kabut turun perlahan, menyelimuti tebing hijau, dan suara gemuruh air jatuh dari ketinggian menjadi satu-satunya suara yang benar-benar terdengar. Kami duduk di warung kecil, makan seadanya, nasi hangat, mie instan, kopi panas. Tapi entah kenapa, rasanya lebih dari cukup. Bahkan terasa istimewa.
Malam datang tanpa banyak tanda. Hanya langit yang semakin gelap dan udara yang semakin dingin. Kami bermalam di villa sederhana, ditemani suara air terjun yang tak pernah berhenti. Di sana, sunyi bukan berarti sepi. Justru di situlah ketenangan terasa paling nyata. Suara air yang deras menjadi lagu pengantar tidur, dan angin malam membawa perasaan damai yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pagi hari di Citambur selalu punya cara untuk membuat siapa pun jatuh cinta lagi. Cahaya matahari menembus kabut, menciptakan kilau lembut di antara derasnya air. Tiga tingkatan air terjun terlihat jelas, megah, tapi juga menenangkan. Udara pagi terasa begitu segar, seolah membersihkan segala lelah yang tersisa.
Dan sekarang, yang tersisa hanyalah rindu.
Rindu pada perjalanan itu, pada dinginnya malam, pada hangatnya kebersamaan, dan pada suara air yang terus mengalir tanpa henti.
Curug Citambur bukan sekadar destinasi.
Ia adalah kenangan, yang diam-diam selalu ingin diulang kembali. (**)













Comment