Wartacianjurnews.com. _Di pelosok Kampung Cilangkap, Desa Sukajaya, Kecamatan Tanggeung, berdiri sebuah rumah besar yang sejak lama menjadi pelita bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Namanya Panti Asuhan Al Hidayah.
Jaraknya memang jauh dari pusat Kota Cianjur, hampir 100 kilometer. Namun bagi sosok Wijaya Kusumah Noer, Ketua Harian Panti, jarak bukanlah penghalang. Baginya, setiap langkah menuju panti adalah perjalanan menuju masa depan anak-anak yang membutuhkan kasih sayang.
“Sejak 1949 panti ini berdiri, lalu diaktekan pada 1961. Usianya sudah sangat tua, bahkan menjadi salah satu yang tertua di Jawa Barat. Tapi semangatnya tetap muda, karena anak-anak di sini selalu membawa harapan baru,” ujar Wijaya dengan mata berbinar.
Kini, Al Hidayah berdiri di atas lahan satu hektar dengan sembilan gedung yang menampung asrama, ruang belajar, dapur, hingga mushola. Didampingi sembilan pengasuh yang bekerja dengan hati, anak-anak di sini tumbuh bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan cinta.
Di balik keterbatasan akses jalan dan jauhnya dari kota, Wijaya tetap teguh. Ia percaya bahwa panti bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah kedua—tempat anak-anak belajar, mengaji, sekolah, dan bermimpi.
Bagi warga sekitar, Al Hidayah adalah simbol keteguhan. Dan bagi anak-anak, Wijaya adalah sosok ayah yang tak pernah lelah menyalakan harapan. Seperti kata Wijaya, “Setiap doa anak-anak di sini adalah cahaya. Dan setiap tangan yang terulur membantu, adalah bagian dari cahaya itu.”
Panti Asuhan Al Hidayah bukan hanya bangunan tua di ujung Tanggeung, melainkan mercusuar harapan yang terus menyala—dipimpin oleh seorang tokoh yang menjadikan hidupnya sebagai pengabdian.(@Redaksi)













Comment