Wartacianjurnews.com- Kritik terhadap mantan Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar kini muncul dari aktivis Ahmad Anwar yang kerap disapa Ebes Silet.

Ebes menyayangkan dugaan keterlibatan mantan koruptor itu pada setiap kebijakan di Pemkab Cianjur yang sebelumnya dikritik habis-habisan aktivis Deni Sunarya alias Mang Gawel.
Ebes sepakat atas pernyataan Mang Gawel bahwa dua matahari di Pemkab Cianjur berpotensi menghancurkan tatanan birokrasi.
Cianjur pun saat ini seharusnya dipimpin oleh seorang Bupati yang punya nyali, berani mengambil keputusan, melawan tekanan dan berani bertanggung jawab atas nasib jutaan rakyat Cianjur, bukan justru sebaliknya.
“Tapi yang terlihat hari ini justru sebaliknya. Rakyat seperti sedang dipertontonkan sandiwara kekuasaan yang memalukan. Bupati dipilih rakyat lewat demokrasi, tapi yang disebut-sebut menentukan arah kebijakan justru ada di belakang layar,” tegas Ebes, Jumat 8 Mei 2026.
Menurut Ebes, apabila semua keputusan harus lewat bayang-bayang kakak ipar, lalu untuk apa ada Bupati.
“Siapa sebenarnya yang memegang kemudi pemerintahan. Apakah Bupati yang sah? Atau orang lain yang tidak punya jabatan resmi, namun disebut punya pengaruh besar?,” tuturnya.
Ebes menambahkan, kondisi Cianjur sudah tidak sehat, kekuasaan diibaratkan dikelola bukan berdasarkan sistem pemerintahan, melainkan hubungan kekeluargaan.
“Ini Pemkab Cianjur atau perusahaan keluarga?, kalimat itu kini ramai bergema di media sosial. Mulai dari mutasi jabatan, arah kebijakan hingga urusan anggaran, terus dikaitkan dengan campur tangan pihak tertentu,” paparnya.
Ebes menilai, ucapan Bupati Cianjur Wahyu ingin cepat meninggal dunia dan masuk surga bukan sekadar candaan, tetapi tanda bahwa ada tekanan besar didalam lingkar kekuasaan atau dapat disimpulkan pemimpin yang hanya menjadi boneka politik.
Maka menjadi sebuah kewajaran, rakyat marah ketika kekuasaan dikuasai dinasti politik yang kembali terulang.
“Yang jadi korban pertama adalah rakyat kecil, jangan heran kalau hari ini suara perlawanan mulai muncul di mana-mana, karena rakyat mulai lelah dipimpin oleh kekuasaan yang lebih sibuk menjaga keluarganya,” pungkasnya. (NRS),













Comment