Ubed, 39 Tahun Mengabdi di Sekretariat DPRD Cianjur, Berhenti Kerja Tanpa Rumah untuk Pulang

Senyum Ubed di Usia Senja Sujandi Samhar (69), akrab disapa Ubed, duduk di tangga dengan senyum yang tak pernah hilang. Hampir 39 tahun ia mengabdi sebagai TKS di Sekretariat DPRD Kabupaten Cianjur. Kini, di masa tua, ia menjalani hidup sederhana tanpa rumah, tanpa keluarga, namun tetap menyimpan keteguhan dan harapan dalam setiap tarikan napas.

Oleh Fadilah Munajat.

Di sudut masjid yang mulai lengang menjelang malam, Sujandi Samhar kerap merebahkan tubuhnya. Lelaki berusia 69 tahun itu lebih dikenal dengan nama Ubed. Di tempat sunyi itulah, ia kini menghabiskan hari-hari tuanya sendirian, tanpa keluarga, tanpa rumah, dan tanpa kepastian.

Tak banyak yang tahu, Ubed telah mengabdikan hampir separuh hidupnya untuk negara.
Ia mulai bekerja di Sekretariat DPRD Kabupaten Cianjur pada tahun 1986, sebagai Tenaga Kerja Sukarela (TKS) bagian umum.

Selama 39 tahun, Ubed setia menjalankan tugas-tugas kecil yang sering luput dari perhatian, membersihkan ruangan, membantu keperluan kantor, dan memastikan aktivitas dewan berjalan lancar.

Namun, pengabdian panjang itu berakhir pada 12 Februari 2025, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-69. Alih-alih hadiah atau ucapan terima kasih, Ubed hanya menerima pesangon sebesar Rp1 juta. Uang yang bahkan tak cukup untuk membayar kontrakan lebih dari sebulan.

“Sudah habis, buat makan dan bayar tunggakan kontrakan,” ujarnya lirih.

Senyum Ubed di Usia Senja
Sujandi Samhar (69), akrab disapa Ubed, duduk di tangga dengan senyum yang tak pernah hilang. Hampir 39 tahun ia mengabdi sebagai TKS di Sekretariat DPRD Kabupaten Cianjur. Kini, di masa tua, ia menjalani hidup sederhana tanpa rumah, tanpa keluarga, namun tetap menyimpan keteguhan dan harapan dalam setiap tarikan napas.

Sejak saat itu, Ubed tak lagi memiliki tempat tinggal. Tanpa tabungan, tanpa sanak saudara, ia terpaksa berpindah-pindah. Jika tak ada yang menolong, masjid menjadi tempat bernaung paling aman baginya.
Padahal, perjalanan hidup Ubed pernah berada sangat dekat dengan harapan besar.

Pada tahun 1993, ia mengikuti tes CPNS. Hasilnya membanggakan, nilainya tertinggi dan ia dinyatakan lulus. Namun kebahagiaan itu tak pernah benar-benar ia rasakan. Saat proses prajabatan, namanya mendadak hilang dari daftar. Posisi yang seharusnya menjadi miliknya, menurut Ubed, digantikan oleh anak seorang pejabat di Cianjur.

“Waktu itu saya kecewa sekali, tapi mau bagaimana lagi. Saya orang kecil,” kenangnya.

Sejak saat itu, Ubed memilih diam. Ia tetap bekerja sebagai TKS, berharap pengabdiannya suatu hari akan dihargai. Tahun demi tahun berlalu, tanpa status jelas, tanpa jaminan hari tua.

Ubed tidak pernah menikah. Hidupnya sepenuhnya ia dedikasikan untuk bekerja. Kini, di usia senja, ia justru menghadapi hari-hari paling berat, tanpa penghasilan, tanpa rumah, dan tanpa sandaran.

Kisah Ubed bukan sekadar cerita tentang kemiskinan, tetapi potret tentang pengabdian panjang yang terabaikan. Tentang seseorang yang setia bekerja dalam senyap, namun terlupakan ketika tak lagi dibutuhkan.

Di tengah gedung-gedung pemerintahan yang megah, masih ada kisah seperti Ubed, yang menunggu uluran tangan, bukan untuk meminta lebih, tetapi sekadar hak hidup yang layak di hari tua. (**)

Comment